Monday, December 28, 2020

13. Al-Balkhi



Abu Zaid Ahmad ibnu Sahl al-Balkhi atau yang lebih dikenal dengan Al-Balkhi adalah ilmuwan muslim Persia yang menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti matematika, geografi, psikologi dan kedokteran. Ia dilahirkan di tahun 850 M di Shamistiyan, di Provinsi Balkh, Khorasan (saat ini Afghanistan) dan meninggal pada tahun 935 M. Ia merupakan murid Al-Kindi.

Dalam Kitab Al-Fihrist, Ibnu Nadim menyebutkan bahwa Al-Balkhi memiliki 41 karya dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Diantaranya bidang ’Ulum Al-Qur’an, kalam, matematika, kedokteran, psikologi, perbandingan agama, politik, sejarah, linguistik, astronomi, sastra dan filsafat. Namun dari semua karyanya yang masih tersisa adalah Kitab Suwar al-Aqalim di bidang geografi dan Kitab Masalih al-Abdan Wa’l Anfus di bidang psikologi.

Al-Balkhi adalah intelektual muslim yang memperkenalkan psikologi Islam dan neuroscience, yakni cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan anatomi, fisiologi, biokimia, atau biologi molekul jaringan saraf, khususnya yang berkaitan langsung dengan perilaku pengetahuan.

Di samping itu, ia juga terkenal sebagai tokoh yang pertama kali menemukan psikologi kognitif dan medis (cognitive and medical psychology). Dialah orang yang pertama kali membedakan antara sakit saraf (neurosis) dan sakit jiwa (psychosis), serta orang yang pertama kali mengklasifikasikan gangguan saraf (neurotic disorders) dan perintis terapi kognitif (cognitive therapy) dalam rangka mengkaji pengelompokan gangguan penyakit ini.

Psikologi kognitif (cognitive psychology) adalah cabang ilmu psikologi yang menyelidiki proses kejiwaan internal, seperti penyelesaian masalah, daya ingatan dan bahasa. Sedangkan psikologi medis (medical psychology) berarti merujuk pada keahlian praktik pengobatan klinik ahli psikologi. Sementara terapi kognitif (cognitive therapy) adalah pendekatan psikoterapi yang bertujuan mempengaruhi gangguan emosi, perilaku dan kesadaran melalui prosedur yang sistematis.

Konsep kesehatan mental dan mental individu, menurut Al-Balkhi, selalu berkaitan dengan kesehatan spiritual. Dia adalah orang yang pertama kali berhasil mengkaji bermacam-macam penyakit yang secara langsung mempunyai keterkaitan antara fisik dan jiwa, seperti yang diulasnya dalam Kitab Masalih al-Abdan Wa’l Anfus (Asupan Badan dan Jiwa). Ia menggunakan istilah Al-Tibb al-Ruhani (pengobatan spiritual) untuk menggambarkan kesehatan jiwa, sedangkan untuk menjelaskan pengobatan mental, digunakannya istilah Tibb al-Qalb (pengobatan kalbu).

Al-Balkhi mengkritik dokter-dokter di zamannya karena selalu memfokuskan perhatian mereka pada penyakit fisik saja dan mengabaikan penyakit mental dan kejiwaan para pasiennya. Dia berargumen bahwa dikarenakan konstruksi manusia terdiri dari jasmani dan rohani, maka keberadaannya tidak bisa dikatakan sehat tanpa adanya keterjalinan (isytibak) antara jiwa dan badan. Dia mengatakan, “Jika badan sakit, jiwa pun akan banyak kehilangan kemampuan kognitifnya dan tidak bisa merasakan kenikmatan hidup. Sebaliknya jika jiwa sakit, badan pun kehilangan keceriaan hidup dan bahkan badannya pun bisa jatuh sakit.”


12. Az-Zahrawi

Abul Qasim Khalaf ibnu al-Abbas az-Zahrawi Adalah salah satu pakar di bidang kedokteran pada masa Islam abad Pertengahan. Dia lahir di Madinatuz Zahra’ (936–1013 M) dan di Barat ia dikenal dengan nama Abulcasis. Karya terkenalnya adalah Al-Tasrif, kumpulan praktik kedokteran yang terdiri atas 30 jilid. 

Az-Zahrawi lahir di Zahra, yang terletak di sekitar Kordoba, Spanyol. Di kalangan bangsa Moor Andalusia, dia dikenal dengan nama “El-Zahrawi”. Az-Zahrawi adalah dokter kerajaan pada masa Khalifah Al-Hakam II dari kekhalifahan Umayyah. Al-Tasrif berisi berbagai topik mengenai kedokteran, termasuk di antaranya tentang gigi dan kelahiran anak.

Buku ini diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Gerardo dari Cremona pada abad ke-12, dan selama lima abad Eropa Pertengahan, buku ini menjadi sumber utama dalam pengetahuan bidang kedokteran di Eropa. Dalam bukunya ini, Az-Zahrawi secara rinci dan lugas mengupas tentang ilmu bedah, orthopedi, opththalmologi, farmakologi, serta ilmu kedokteran secara umum. Ia juga begitu berjasa dalam bidang kosmetika. Sederet produk kosmetika seperti deodoran, hand lotion, pewarna rambut yang berkembang hingga kini merupakan hasil karyanya. Bidang lain yang menjadi perhatiannya adalah pembedahan dan obat.

Popularitas Az-Zahrawi sebagai dokter bedah yang andal menyebar hingga ke seantero Eropa. Tak heran bila kemudian pasien dan anak muda yang ingin belajar ilmu kedokteran darinya berdatangan dari berbagai penjuru Eropa. Menurut Will Durant, pada masa itu Kordoba menjadi tempat favorit bagi orang-orang Eropa yang ingin menjalani operasi bedah. Di puncak kejayaannya, Kordoba memiliki tak kurang 50 rumah sakit yang menawarkan pelayanan yang prima.

Dalam menjalankan praktik kedokterannya, Az-Zahrawi menanamkan pentingnya observasi tertutup dalam kasus-kasus individual. Hal itu dilakukan untuk tercapainya diagnosis yang akurat serta kemungkinan pelayanan yang terbaik. Az-Zahrawi pun selalu mengingatkan agar para dokter untuk berpegang kepada norma dan kode etik kedokteran, yakni tak menggunakan profesi dokter hanya untuk meraup keuntungan materi.


11. Ibnu Sina



Abu Ali al-Husein ibnu Sina atau lebih dikenal dengan nama Avicenna, yang hidup antara tahun 986-1037 M adalah ilmuwan ensiklopedi, dokter, psikolog, penulis kaidah kedokteran modern (dipakai sebagai referensi ilmu kedokteran barat), menulis buku tentang fungsi organ tubuh, meneliti penyakit TBC, Diabetes dan penyakit yang ditimbulkan oleh efek pikiran. 

Ia merupakan seorang ilmuwan muslim dan filosof besar pada waktu itu, sehingga kepadanya diberikan julukan Syekh Al-Rais. Keistimewaannya antara lain adalah: Pada masa umur 10 tahun sudah hafal Al-Qur`an, kemudian pada usia 18 tahun sudah mampu menguasai semua ilmu yang ada pada waktu itu, bidang keahliannya adalah ilmu kedokteran, ilmu fisika, geologi, mineralogi, filsafat, matematika, dan astronomi.


10. Al-Jahiz



Al-Jahiz (wafat pada tahun 869 M) adalah yang pertama kali menulis penelitian tentang ilmu hewan (zoologi). Al-Jahiz lahir di Basra, Irak pada tahun 781 M. Nama aslinya adalah Abu Uthman Amr ibnu Bahr al-Kinani al-Fuqaimi al-Basri. Ia merupakan ilmuwan muslim pertama yang mencetuskan teori evolusi. Pengaruhnya begitu luas di kalangan ahli zoologi muslim dan Barat. Jhon William Draper, ahli biologi Barat yang sezaman dengan Charles Darwin pernah berujar, “Teori evolusi yang dikembangkan umat Islam lebih jauh dari yang seharusnya kita lakukan. Para ahli biologi muslim sampai meneliti berbagai hal tentang anorganik serta mineral.” Al-Jahiz lah ahli biologi muslim yang pertama kali mengembangkan sebuah teori evolusi. Ilmuwan dari abad ke-9 itu mengungkapkan dampak lingkungan terhadap kemungkinan seekor binatang untuk tetap bertahan hidup. 

Sejarah peradaban Islam mencatat nama Al-Jahiz sebagai ahli biologi pertama yang mengungkapkan teori berjuang untuk tetap hidup (struggle for existence). Untuk dapat bertahan hidup, papar dia, makhluk hidup harus berjuang, seperti yang pernah dialaminya semasa hidup. 

Beliau dilahirkan dan dibesarkan di keluarga miskin. Meskipun harus berjuang membantu perekonomian keluarga yang morat-marit dengan menjual ikan, ia tidak putus sekolah dan rajin berdiskusi di masjid tentang sains. Beliau bersekolah hingga usia 25 tahun. Di sekolah, Al-Jahiz mempelajari banyak hal, seperti puisi Arab, filsafat Arab, sejarah Arab dan Persia sebelum Islam, serta Al-Qur’an dan hadits. 

Al-Jahiz juga merupakan penganut awal determinisme lingkungan. Menurutnya, lingkungan dapat menentukan karakteristik fisik penghuni sebuah komunitas tertentu. Berkat teori-teori yang begitu cemerlang, Al-Jahiz pun dikenal sebagai ahli biologi terbesar yang pernah lahir di dunia Islam. 

Ilmuwan yang amat tersohor di Kota Basra, Irak itu bersama koleganya yaitu Ibnu Al-Muqaffa berhasil menuliskan Kitab Al-Haywan (Buku tentang Binatang). Dimana dalam kitab itu dia menulis tentang kuman, teori evolusi, adaptasi, dan psikologi binatang. Al-Jahiz pun tercatat sebagai ahli biologi pertama yang mencatat perubahan hidup burung melalui migrasi. Tak hanya itu, pada abad ke-9 M. Al-Jahiz sudah mampu menjelaskan metode memperoleh ammonia dari kotoran binatang melalui penyulingan. 

Sosok dan pemikiran Al-Jahiz pun begitu berpengaruh terhadap ilmuwan Persia, Al-Qazwini, dan ilmuwan Mesir, Al-Damiri. Karirnya sebagai penulis ia awali dengan menulis artikel. Ketika itu Al-Jahiz masih di Basra. Sejak itu, ia terus menulis hingga lebih dari dua ratus buku semasa hidupnya, diantaranya adalah Kitab al-Hayawan of Aristotle. 

Selain Kitab Al-Hayawan, beliau juga menulis Kitab al-Bukhala (Book of Misers or Avarice & the Avaricious), Kitab al-Bayan wa al-Tabyin (The Book of Eloquence and Demonstration), Kitab Moufakharat al-Jawari wal Ghilman (The Book of Dithyramb of Concubines and Ephebes), dan Risalah Mufakharat al-sudan ‘ala al-bidan (Superiority of The Blacks To The Whites). 

Pada tahun 816 M ia pindah ke Baghdad. Al-Jahiz meninggal setelah lima puluh tahun menetap di Baghdad pada tahun 869 M, ketika ia berusia 93 tahun.


9. Abu Bakar bin Zakaria Ar-Razi

Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi merupakan salah seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864-930 M. Ar-Razi dikenal luas sebagai ilmuwan serba bisa dan dianggap sebagai salah satu ilmuwan terbesar dalam Islam. 

Ar-Razi lahir di Rayy, Teheran pada tahun 865 M dan wafat pada tahun 925 M. Sejak usia muda ia telah mempelajari filsafat, kimia, matematika dan kesastraan. Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepada Hunayn bin Ishaq di Baghdad. Sekembalinya ke Teheran, ia dipercaya untuk memimpin sebuah rumah sakit di Rayy. Selanjutnya ia juga memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad.

Sebagai seorang dokter utama di rumah sakit di Baghdad, Ar-Razi merupakan orang pertama yang membuat penjelasan seputar penyakit cacar. Razi diketahui sebagai seorang ilmuwan yang menemukan penyakit “alergi asma”, dan ilmuwan pertama yang menulis tentang alergi dan imunologi. 

Pada salah satu tulisannya, dia menjelaskan timbulnya penyakit rhintis setelah mencium bunga mawar pada musim panas. Razi juga merupakan ilmuwan pertama yang menjelaskan demam sebagai mekanisme tubuh untuk melindungi diri. Pada bidang farmasi, Ar-Razi juga berkontribusi membuat peralatan seperti tabung, spatula dan mortar. Ar-Razi juga mengembangkan obat-obatan yang berasal dari merkuri.


Tuesday, December 22, 2020

8. Ad-Damiri

Abu al-Baqa` Kamaluddin Muhammad bin Musa bin Isa bin Ali (wafat pada tahun 1450) adalah yang pertama mengembangkan sistem taksonomi/klasifikasi khusus ilmu hewan dan buku tentang kehidupan hewan. Dia biasa dipanggil dengan nama Ad-Damiri karena keluarganya berasal dari Desa Damirah, salah satu pedesaan di Mesir. 

Ad-Damiri belajar ilmu bahasa, fiqih, hadits, dan sastra di Universitas Al-Azhar. Dia belajar kepada dosen-dosen senior yang terdapat di universitas tersebut, di antaranya Syaikh Bahauddin as-Subki, Syaikh Jamaluddin al-Isnawi, Al-Kamal Abu al-Fadhl an-Nuwairi, Ibnu al-Mulqin, Al-Bulqini, Burhan al-Qairathi, Al-Baha Aqil, dan lainnya. Ketika dia sudah berhasil meraih gelar ustadz (profesor) dan guru-gurunya mengakui keilmuannya, dia diizinkan untuk mengajar di Universitas Al-Azhar. Dia memberikan pengajian kepada murid-muridnya pada hari Sabtu. Dia juga mengajarkan ilmu hadits di Qubah al-Baibarsiyah. Sedangkan di Madrasah Ibnu al-Baqari yang berada di Bab an-Nashr, dia mengajar pada hari Jumat. Setelah selesai shalat Jumat, dia menyampaikan pengajian di Masjid Azh-Zhahir yang berada di daerah Husein, Mesir.

Nama Ad-Damiri dikenal lewat karyanya yang berjudul Hayat al-Hayawan al-Kubra, sebuah ensiklopedi zoologi. Buku ini adalah buku ilmu hewan terbaik sepanjang masa itu. Di kemudian hari, Hayat al-Hayawan al-Kubra diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam 2 jilid (London, 1906-1908).

Buku Hayat al-Hayawan al-Kubra mulai ditulis oleh Ad-Damiri pada tahun 1271. Pada saat itu, dia masih berumur tidak lebih dari 31 tahun. Ini tentunya merupakan usia yang masih terbilang muda untuk menulis ensiklopedi besar yang dapat mengumpulkan berbagai informasi dari beberapa disiplin ilmu. Ad-Damiri menyebutkan bahwa dia telah mengumpulkan bahan tulisannya dari 560 buku di samping peninjauannya kepada 199 kumpulan syair. Dengan demikian, buku ini merupakan referensi besar yang masih jarang ditulis oleh para ilmuwan dalam bidangnya.


7. Al-Baytar

Abu Bakar Al-Baytar (wafat pada tahun 1340) adalah ilmuwan muslim yang mengarang buku tentang kedokteran hewan yang pertama.


6. Ibnu Abdus Salam

Ibnu Abdus Salam (abad 13) adalah ilmuwan muslim yang merumuskan pertama kali tentang hak-hak perlindungan binatang atau konservasi hewani.


Monday, December 21, 2020

5. Al-Ibadi

Al-Ibadi (wafat pada tahun 873 M) adalah pengarang buku tentang anatomi mata, otak dan syaraf optik, serta berbagai permasalahan pada mata.


3. Ibnu Nafis



Ibnu Nafis atau Al-Din Abu al-Hasan Ali ibnu Abi al-Hazm al-Qarshi al-Dimashqi merupakan orang pertama yang secara akurat mendeskripsikan peredaran darah dalam tubuh manusia pada tahun 1242, walaupun kemudian Harvey (tahun 1628) dianggap sebagai yang pertama kali menemukannya. Penggambaran kontemporer proses ini telah bertahan cukup lama. 

Ibnu Nafis juga merupakan orang pertama yang diketahui telah mendokumentasikan sirkuit paru-paru. Secara besar-besaran karyanya tak tercatat sampai ditemukan di Berlin pada 1924. Dia lahir di Syam tahun 1210 dan meninggal di Kairo, Mesir pada 17 Desember 1288 di usia 78 tahun.

Dia biasa dipanggil dengan Ad-Dimasyqi, karena ia dilahirkan di Syam dan awal masa mudanya ia habiskan di kota Damaskus, sebagaimana dia juga dipanggil dengan Al-Mishri, karena ia telah mengabiskan sebagian besar usianya di kota Kairo dan memiliki ikatan yang kuat dengan Mesir dan penduduknya. Selain itu, ia juga mempunyai nama panggilan lain, yaitu The Second Avicenna (Ibnu Sina Kedua), yang diberikan oleh para pengagumnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Ibnu Nafis menempuh pendidikan kedokteran di Medical College Hospital. Gurunya adalah Muhalthab al-Din Abd al-Rahim. Selain itu, ia juga mempelajari hukum Islam. Di kemudian hari, selain sebagai dokter, Ibnu Nafis juga dikenal sebagai pakar hukum Islam bermazhab Syafi’i. Pada tahun 1236, setelah menyelesaikan pendidikannya di bidang kedokteran dan hukum Islam, Ibnu Nafis meninggalkan tanah kelahirannya menuju Kairo, Mesir. Di sana, ia belajar di Rumah Sakit Al-Nassiri. Prestasinya yang gemilang membuat ia kemudian ditunjuk sebagai direktur rumah sakit tersebut.

Sebagai seorang dokter, Ibnu Nafis tidak pernah merasa puas dengan ilmu kedokteran yang dimilikinya. Ia terus memperkaya pengetahuannya melalui berbagai observasi. Hal inilah yang membuat namanya terkenal. Ia adalah dokter pertama yang mampu menerangkan secara tepat tentang paru-paru dan memberikan gambaran mengenai saluran pernapasan, juga interaksi antara saluran udara dengan darah dalam tubuh manusia. Ibnu Nafis dikenal sebagai seorang dokter muslim yang mempunyai pendapat dan pemikiran yang masih murni, terbebas dari berbagai pengaruh Barat.

Dalam studinya, Ibnu Nafis menggunakan beberapa metode, yaitu observasi, survei, dan percobaan. Ia mempelajari ilmu kedokteran melalui pengamatan terhadap sejumlah gejala dan unsur yang mempengaruhi tubuh. Menurut Ibnu Nafis, selain melakukan pengobatan, memeriksa unsur-unsur penyebab munculnya penyakit juga perlu. Selain itu, ia juga memaparkan mengenai fungsi pembuluh arteri dalam jantung sebagai pemasok darah bagi otot jantung (Cardiac Musculature). Penemuannya mengenai peredaran darah di paru-paru ini merupakan penemuan yang menarik. Sehubungan dengan hal itu, Ibnu Nafis dianggap telah memberikan pengaruh besar bagi perkembangan ilmu kedokteran Eropa pada abad XVI. Lewat penemuannya tersebut, para ilmuwan menganggapnya sebagai tokoh pertama dalam ilmu sirkulasi darah.


2. Al-Razi

Al-Razi adalah sang pengarang dari kitab Sirr al-Asrar (Rahasianya Rahasia) yang mengulas tentang penyulingan minyak mentah, pembuatan ekstrak parfum/minyak wangi (sekarang Perancis yang terkenal), ekstrak tanaman untuk keperluan obat, pembuatan sabun, kaca warna-warni, keramik, tinta, bahan celup kain, ekstrak minyak dan lemak, zat warna, bahan-bahan dari kulit, ia juga mengembangkan penelitian tentang penyakit wanita dan kebidanan, penyakit keturunan, penyakit mata, penyakit campak dan cacar.


1. Ibnu Bajjah



Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Yahya bin ash-Shayigh. Ia merupakan filsuf dan dokter muslim Andalusia yang dikenal di Barat dengan nama latinnya, Avempace. Ibnu Bajjah lahir di Saragossa di tempat yang kini bernama Spanyol dan meninggal di Fez pada 1138 M. Ibnu Bajjah berasal dari keluarga At-Tujib, karenanya ia juga dikenal sebagai At-Tujibi. 

Meskipun kehidupannya tidak diketahui secara pasti, begitu juga mengenai pendidikan yang ditempuhnya dan guru yang mengajarnya, ia adalah seorang sarjana bahasa dan sastra Arab yang ulung serta menguasai dua belas macam ilmu pengetahuan ketika ia berada ke Granada.

Pemikiran Ibnu Bajjah memiliki pengaruh yang jelas pada Ibnu Rushdi dan The Great Albert. Kebanyakan buku dan tulisannya tidak lengkap (atau teratur baik) karena kematiannya yang cepat. Ia memiliki pengetahuan yang luas pada kedokteran, matematika, dan astronomi. Sumbangan utamanya pada filsafat Islam ialah gagasannya pada Fenomenologi Jiwa, namun sayangnya tak lengkap. Ekspresi yang dicintainya ialah Gharib dan Motivahhed ekspresi yang diakui dan terkenal dari Gnostik Islam. Ia juga menulis Risalah al-Wada’, risalah ini membahas Penggerak Pertama (Tuhan), manusia, alam, dan kedokteran.


Sunday, December 20, 2020

12. Al-Karaji




Abu Bakar bin Muhammad bin al-Husain al-Karaji atau yang lebih dikenal dengan Al-Karaji (953-1029 M) merupakan seorang matematikawan, insinyur dan ahli hidrologi dari Persia. Ilmuwan muslim yang hidup pada abad ke-10 ini memiliki beberapa karya yang terkenal, diantaranya adalah Al-Badi’ fi’l-Hisab (Perhitungan yang Indah), Al-Fakhri fi’l-Jabr Wa’l-Muqabala (Aljabar yang Agung), dan Al-Kafi fi’l-Hisab (Perhitungan yang Memadai).

Al-Karaji juga dikenal dunia sebagai Al-Karkhi. Selain sebagai matematikawan ia dikenal juga sebagai ahli hidrologi. Hidrologi merupakan cabang ilmu bumi yang mempelajari pergerakan, distribusi, dan kualitas air di seluruh bumi, termasuk siklus hidrologi dan sumber daya air. Al-Karaji berjasa dalam mengembangkan studi hidrologi di dunia Islam. Lewat bukunya Kitab Inbat al-Miyah al-Khafiya, ia mengkaji dan menyumbangkan pemikirannya dalam ilmu ekstraksi air di bawah tanah. Berkat kehebatannya, ia bahkan mendapat julukan sebagai pelopor mesin tenaga air.

Sejarah sains modern memandang Al-Karaji sebagai ahli matematika berkaliber tertinggi. Karyanya yang kekal pada bidang matematika masih diakui hingga hari ini, yakni mengenai kanonik tebel koefisien binomium (dalam pembentukan hukum dan perluasan bentuk).

Al-Karaji dianggap sebagai ahli matematika terkemuka dan sebagai orang pertama yang membebaskan aljabar dari operasi geometris yang merupakan produk aritmatika Yunani dan menggantinya dengan jenis operasi yang merupakan inti dari aljabar pada saat ini.

Karyanya pada aljabar dan polinomial memberikan aturan pada operasi aritmatika untuk memanipulasi polinomial. Dalam karya pertamanya di Perancis, matematikawan Franz Woepcke memuji Al-Karaji sebagai ahli matematika pertama di dunia yang memperkenalkan teori aljabar kalkulus.

Al-Karaji menginvestasikan koefisien binomium segitiga Pascal. Dia juga yang pertama menggunakan metode pembuktian dengan induksi matematika untuk membuktikan hasilnya, ia berhasil membuktikan kebenaran rumus jumlah integral kubus, yang sangat penting hasilnya dalam integral kalkulus.

J.J O’Connor dan E.F Robertson dalam bukunya pernah mengatakan bahwa karya Al-Karaji memegang tempat penting dalam sejarah matematika. Ia banyak terpengaruh dan terinspirasi karya-karya aritmatika Diophantus, dalam konsepsi aljabar.

Dedikasinya yang tinggi dalam bidang matematika dan hidrologi membuatnya banyak menghasilkan karya yang monumental. Selain Kitab Inbat al-Miyah al-Khafiya, ia juga menulis sederet karya lainnya. Sayangnya beberapa karyanya yang penting itu telah hilang.


11. Ibnu Turk



‘Abd al-Hamid ibnu Turk (wafat pada tahun 830 M), yang juga dikenal sebagai ‘Abd al-Hamid ibnu Wase ibnu Turk Jili, adalah seorang matematikawan muslim dari Turki pada abad ke-9. Tidak banyak yang diketahui tentangnya. Dua catatan mengenai dirinya yang ditulis oleh Ibnu Nadim dan lainnya ditulis oleh Al-Qifti, ternyata tidak identik. Namun pada tulisan Al-Qifi menyebutkan bahwa namanya ‘Abd al-Hamid ibnu Wase ibnu Turk Jili. Jili artinya dari Gilan. 

Ibnu Turk menulis sebuah karya yang membahas tentang aljabar namun hanya satu bab, dan dinamakan “Logical Necessities in Mixed Equations”, yaitu tentang pemecahan persamaan kuadrat. Ia menulis sebuah manuskrip berjudul “Logical Necessities in Mixed Equations”, yang mirip dengan Al-Jabr yang ditulis oleh Al-Khwarzimi, yang diterbitkan secara hampir bersamaan waktunya, atau bahkan mungkin lebih awal dari pada Al-Jabr. Manuskrip tersebut memberikan gambaran geometris yang persis sama dengan yang ditemukan di dalam Al-Jabr, dan contoh kasus yang juga persis sama dengan yang ditemukan di dalam Al-Jabr, yang bahkan juga memberikan bukti-bukti geometris yang sama bahwa jika diskriminannya negatif maka persamaan kuadratnya adalah nol. Kemiripan antara kedua buah karya tersebut membuat para sejarawan berkesimpulan bahwa ilmu aljabar mungkin telah ada dan berkembang pada masa Al-Khwarizmi dan 'Abd al-Hamid.


Wednesday, December 16, 2020

10. Al-Sijzi



Nama lengkapnya adalah Abu Sa'id Ahmed ibnu Mohammed ibnu Abd Jalil Sijzi. Sijzi adalah singkatan dari Sijistani. Dia adalah seorang astronom dan matematikawan berkebangsaan Persia dari Sistan, sebuah wilayah yang terletak di barat daya Afghanistan. Al-Sijzi lahir sekitar tahun 945 M, dan wafat pada tahun 1020 M. Fokus pengetahuannya adalah astronomi. Ia memiliki pengetahuan sangat luas yang didapatkannya dari berbagai literatur. Semasa hidupnya, ia bekerja untuk 'Adud al-Daula dan pangeran Balkh. Ia juga bekerja di Shiraz, melakukan pengamatan astronomik dari tahun 969 M hingga 970 M. Al-Sijzi juga banyak menghasilkan karya-karya di bidang geometri.

Al-Biruni pernah menyatakan bahwa Al-Sijzi menemukan sebuah alat astronomik yang dinamakan “Zuraqi”, yang desainnya didasarkan pada ide bahwa bumi berputar: “Saya pernah melihat alat astronomik yang dinamakan Zuraqi yang diciptakan oleh Abu Sa'id Sijzi. Saya sangat menyukainya dan memuji karyanya, dimana alat tersebut memberikan gambaran baru tentang ide bahwa bumi itu berputar dan bukannya langit yang berputar.”

Al-Sijzi juga seorang matematikawan yang khusus mempelajari titik potong dari kerucut dan lingkaran. Ia menggantikan triseksi kinematikal lama dari suatu sudut dengan menggunakan sebuah pemecahan geometris (titik potong dari sebuah lingkaran dan sebuah hiperbola ekilateral).


9. Abu Nashr Mansur


Abu Nashr Mansur bin Ali (sekitar 970–1036 M) merupakan matematikawan dari Khwarazm. Ia banyak dikenal untuk penemuannya tentang hukum sinus. Abu Nashr Mansur dilahirkan di Khwarazm dari keluarga yang menguasai daerah itu. Ia kemudian menjadi pangeran dalam iklim politik. Ia merupakan guru Al-Biruni dan juga kolega penting para matematikawan. Bersama mereka ia menorehkan karya penemuan besar dalam matematika dan mendedikasikan karyanya pada orang lain. 

Kebanyakan karya Abu Nashr berfokus pada matematika, namun ada juga beberapa karyanya di bidang astronomi. Dalam matematika, ia memiliki banyak tulisan penting pada trigonometri, yang dikembangkan dari tulisan Ptolomeus. Ia juga memelihara karya Menelaus dari Alexandria dan mengerjakan kembali banyak teorema Yunani. Ia meninggal di daerah yang kini disebut Afghanistan, dekat Kota Ghazna.


8. Al-Misri


Ahmad ibnu Yusuf al-Misri (835-912 M) adalah seorang matematikawan, putra dari Yusuf ibnu Ibrahim yang juga seorang matematikawan. Ahmad ibnu Yusuf al-Misri lahir di Baghdad, Irak dan kemudian pindah bersama ayahnya ke Damaskus pada tahun 839 M. Kemudian ia pindah lagi ke Kairo, dan dari sinilah namanya mendapat tambahan al-Misri (dari Mesir).


Sunday, December 13, 2020

7. Al-Kirmani



Abul Hakam Umar bin Abdurrahman bin Ahmad bin Ali Al-Kirmani atau Al-Kirmani adalah cendekiawan besar abad ke-12 dari Kordoba, Al-Andalus. Ia adalah murid dari Maslamah al-Majriti. Ia mempelajari dan berkarya di bidang geometri dan logika. 

Menurut salah seorang muridnya yang bernama Al-Husain bin Muhammad al-Husain bin Hayy al-Tajibi, “Tak ada yang sepandai Al-Kirmani dalam memahami geometri atau jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya yang tersulit, dan dalam mempertunjukkan seluruh bagian dan bentuknya.” 

Al-Kirmani lalu pindah ke Harran, Al-Jazirah (sekarang terletak di Turki). Disana ia mempelajari geometri dan kedokteran. Ia kemudian kembali ke Al-Andalus dan tinggal di Sarqasta (Zaragoza). Ia diketahui menjalankan praktik bedah seperti amputasi dan kauterisasi.


6. Abu Raihan al-Biruni



Abu Raihan al-Biruni merupakan matematikawan Persia, astronom, fisikawan, sarjana, penulis ensiklopedia, filsuf, pengembara, sejarawan, ahli farmasi dan guru, yang banyak menyumbang kepada bidang matematika, filsafat, dan ilmu obat-obatan. 

Abu Raihan al-Biruni dilahirkan di Khawarazmi, Turkmenistan atau Khiva di kawasan Danau Aral di Asia Tengah yang pada masa itu terletak dalam kekaisaran Persia. Dia belajar matematika dan pengkajian bintang dari Abu Nashr Mansur. Abu Raihan al-Biruni merupakan teman filsuf dan ahli obat-obatan Abu Ali al-Hussain ibnu Abdallah Ibnu Sina (Ibnu Sina), sejarawan, filsuf, dan pakar etik Ibnu Miskawaih, di universitas dan pusat sains yang didirikan oleh putera Abu Al-Abbas Ma’mun Khawarazmshah. Dia lahir tanggal 15 September 973 dan meninggal pada 13 Desember 1048.


5. Al-Farabi



Abu Nasir Al-Farabi atau lebih dikenal sebagai Al-Farabi hidup antara tahun 870-900 M. Orang barat menyebutnya dengan Alfarabius. Ia merupakan tokoh Islam yang pertama dalam bidang logika. Al-Farabi juga mengembangkan dan mempelajari ilmu fisika, matematika, etika, filsafat, politik, dan sebagainya. Bidang lain yang menjadi perhatiannya adalah sosiologi, dan musik.


4. Al-Khwarizmi



Muhammad ibnu Musa Al-Khawarizmi (780-850 M) adalah seorang pakar dalam bidang matematik, astronomi dan geografi dari Iran. Orang-orang Eropa menyebutnya dengan nama Al-Gorisma. Al-Khwarizmi adalah yang pertama menemukan logaritma (berasal dari nama Al-Khwarizmi) dan aljabar (Al-Jabr). Dan di bidang ilmu bumi ia dikenal dengan bukunya yaitu Kitab Surah al-Ardh yang menyatakan bahwa bumi itu bulat (jauh sebelum Galileo mendeklarasikannya). 

Al-Khawarizmi juga dikenal sebagai Bapak Algebra (Al-Jabar). Nama itu kemudian dipakai orang-orang barat dalam arti kata aritmatika atau ilmu hitung. Mengapa? Karena dia adalah seorang muslim yang pertama-tama dan ternama dalam ilmu matematika dan ilmu hitung. Bukunya yang terkenal berjudul Al-Jabar Wal Muqobalah, kemudian buku tersebut disalin oleh orang-orang barat dan sampai sekarang ilmu itu kita kenal dengan nama Al-Jabar.


3 Abu Wafa’




Abu Wafa’ Muhammad ibnu Muhammad ibnu Yahya ibnu Ismail Buzjani atau Abu Wafa’ (lahir di Buzhgan, Nishapur, Iran, 940–997/998 M) merupakan ilmuwan muslim yang mengembangan ilmu trigonometri dan geometri bola serta penemu tabel sinus dan tangen, ia juga merupakan penemu variasi dalam gerakan bulan. Ia adalah seorang ahli astronomi dan matematikawan yang ternama dari Persia. “Ia adalah salah satu matematikawan terhebat yang dimiliki perabadan Islam,” papar Bapak Sejarah Sains, George Sarton dalam bukunya bertajuk Introduction to the History of Science. Sedangkan Kattani mengatakan bahwa Abu Wafa’ merupakan matematikawan terbesar di abad ke-10.

Abu Wafa’ belajar matematika dari pamannya yang bernama Abu Umar al-Maghazli dan Abu Abdullah Muhammad ibnu Ataba. Sedangkan ilmu geometri dikenalnya dari Abu Yahya alMarudi dan Abu al-Ala’ ibnu Karnib. Ia tumbuh besar di era bangkitnya sebuah dinasti Islam baru yang berkuasa di wilayah Iran. Dinasti yang bernama Buwaih itu berkuasa di wilayah Persia —Iran dan Irak— pada tahun 945 hingga 1055 M. Kesultanan Buwaih menancapkan benderanya di antara periode peralihan kekuasaan dari Arab ke Turki. Dinasti yang berasal dari suku Turki itu mampu menggulingkan kekuasaan Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad pada masa kepemimpinan Ahmad Buyeh.

Dinasti Buwaih memindahkan ibukota pemerintahannya ke Baghdad saat Adud ad-Dawlah berkuasa dari tahun 949-983 M. Pemerintahan Adud ad-Dawlah sangat mendukung dan memfasilitasi para ilmuwan dan seniman. Dukungan itulah yang membuat Abu Wafa’ memutuskan hijrah dari kampung halamannya ke Baghdad. Sang ilmuwan dari Khurasan ini lalu memutuskan untuk mendedikasikan dirinya bagi ilmu pengetahuan di istana Adud ad-Dawlah pada tahun 959 M.

Abu Wafa’ juga mempelajari pergerakan bulan; salah satu kawah di bulan dinamai Abul Wafa’ sesuai dengan namanya. Di antara sederet ulama dan ilmuwan muslim yang dimiliki peradaban Islam, hanya 24 tokoh saja yang diabadikan di kawah bulan dan telah mendapat pengakuan dari Organisasi Astronomi Internasional (IAU). Kebanyakan ilmuwan muslim diabadikan di kawah bulan dengan nama panggilan Barat dan Abu Wafa’ adalah salah satu ilmuwan yang diabadikan di kawah bulan dengan nama aslinya. Salah satu kontribusinya dalam trigonometri adalah mengembangkan fungsi tangen dan mengembangkan metode untuk menghitung tabel trigonometri.


Sunday, December 6, 2020

2. Umar Khayyam



Ghiyath ad-Din Abu’l-Fath Umar ibnu Ibrahim Khayyam Neishahpuri  atau Umar Khayyam (wafat pada tahun 1123 M) adalah ilmuwan muslim yang memecahkan persamaan pangkat tiga dan empat melalui kerucut-kerucut yang merupakan ilmu aljabar tertinggi dalam matematika modern. Selain itu, Umar Khayyam juga dikenal luas sebagai seorang penyair.

Umar lahir di Nishapur, daerah timur laut Iran. Masa kecilnya banyak dihabiskan di Balkh (saat ini Afghanistan) dan ia belajar dari Sheikh Muhammad Mansuri. Ia juga belajar dari Imam Mowaffaq Nishapuri, salah satu guru paling baik di Khorasan. Saat usianya masih muda ia pindah ke Samarkand dan mulai belajar di sana. Setelah beberapa tahun ia pindah ke Bukhara dan menjadi ahli matematika dan astronomi. Dia menulis salah satu risalah paling penting tentang aljabar sebelum dunia modern yang kemudian diterapkan di Eropa.


1. Nasir al-Din al-Tusi



Muhammad ibnu Muhammad ibnu al-Hassan al-Tusi atau yang lebih dikenal dengan Nasir al-Din al-Tusi (1201-1274 M) adalah ilmuwan muslim  berkebangsaan Iran yang dikenal luas sebagai seorang matematikawan, ahli falsafah, astronomi, teologi, penulis, ahli di bidang pengobatan, astronomi dan geometri. 

Al-Tusi lahir di Kota Tus, Khorasan (daerah timur laut Iran) di tahun 1201 M dan mulai belajar sejak usia dini. Di Hamadan dan Tus ia belajar Al-Qur’an, hadits, hukum Ja’fari, logika, filsafat, matematika, obat-obatan dan astronomi. Di usianya yang masih muda, Al-Tusi pindah ke Nishapur untuk belajar falsafat dari Farid al-Din Damad, matematika dari Muhammad Hasib dan ia juga banyak belajar dari Qutb al-Din al-Misri. Ia juga belajar matematika dan astronomi di Mosul bersama Kamal al-Din Yunus.

Ada 150 risalah dan buku yang sudah dibuat oleh Al-Tusi, 25 diantaranya ditulis dalam bahasa Persia, sisanya dalam bahasa Arab, dan ada 1 risalah yang ditulis dalam bahasa Persia, Arab dan Turki. Beberapa contoh karyanya yang terkenal adalah Kitab al-Shakl al-Qatta (lima jilid buku tentang trigonometri), Al-Tadhkirah fi’ilm al-Hay’ah (buku tentang astronomi), Akhlaq-i Nasiri, al-Risalah al-Asturlabiyah, Zij-i Ilkhani, Sharh al-Isharat, Awsaf al-Ashraf, Talkhis al-Mohassal dan Tajrid al-Itiqad.


10. Abu al-Salt


Abu al-Salt, bernama lengkap Umayya ibnu ‘Abd al-’Aziz ibnu Abi al-Salt al-Dani al-Andalusi (1068-1134 M) adalah seorang polymath dari Andalusia, yang karya-karyanya mengenai instrumen-instrumen astronomik dikenal luas di dunia Islam maupun di Eropa. Ia juga seorang fisikawan, pengajar ilmu kimia, dan ia menulis beberapa risalah tentang obat-obatan, filsafat, musik, dan sejarah. Ia menjadi sangat terkenal di Eropa karena tulisan-tulisannya yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Ia juga dipuji karena memperkenalkan musik-musik Andalusia ke Tunisia. Abu al-Salt diketahui pernah mencoba memindahkan berton-ton tembaga yang mengendap di dasar Sungai Nil dengan menggunakan tali sutera.

Abu al-Salt lahir di Denia, Al-Andalus. Ayahnya wafat semasa ia masih kecil. Ia kemudian menjadi murid Al-Waqqashi (1017-1095 M) dari Toledo, yang merupakan sahabat dari Al-Zarqali. Setelah menyelesaikan pendidikan matematikanya di Seville, dan dikarenakan oleh semakin meningkatnya konflik pada masa reconquista, maka ia dan keluarganya mengungsi ke Alexandria dan kemudian ke Kairo pada tahun 1096.

Di Kairo, ia bekerja untuk penguasa fatimiyah yaitu: Abu Tamim Ma'add al-Mustanir bi-llah dan juga bekerja untuk seorang pejabat tinggi yaitu Al-Afdal Shahanshah. Dia mengabdi sampai dengan tahun 1108, dan kemudian (menurut Ibnu Abi Uaybi’a) ia berhenti karena usahanya untuk menyelamatkan sebuah kapal besar bermuatan tembaga yang terbalik di Sungai Nil berakhir dengan kegagalan. Abu al-Salt telah membuat semacam alat mekanik untuk menyelamatkan kapal tersebut, dan ia hampir saja berhasil ketika tiba-tiba tali sutera pada alat tersebut putus. Kemudian, Al-Afdal, sang pejabat tinggi memerintahkan agar Abu al-Salt ditahan, dan ia kemudian dipenjara selama lebih dari tiga tahun, dan dibebaskan pada tahun 1112 M.

Abu al-Salt kemudian meninggalkan Mesir menuju Kairouan di Tunisia, di sana ia mengabdi kepada Zirids di Ifriqiya. Sekali waktu ia bepergian ke Palermo dan bekerja di istana Roger I di Sisilia sebagai fisikawan tamu. Ia wafat di Bejaia, Algeria.

Abu al-Salt menulis sebuah karya ensiklopedi dari berbagai risalah tentang disiplin ilmu yang dikenal sebagai quadrivium. Karya ini kemungkinan besar dikenal dalam bahasa Arab sebagai Kitab al-Kafi fi al-’Ulum. Ia juga memiliki ketertarikan di bidang kimia dan obat-obatan herbal. Ia sangat tekun berusaha dan bahkan terobsesi untuk menemukan obat mujarab yang mampu mengubah tembaga menjadi emas, dan timah menjadi perak.


9. Ibnu Sahl



Nama lengkapnya adalah Abu Sa’d al-’Ala’ ibnu Sahl (940-1000 M). Ia merupakan seorang matematikawan, fisikawan, dan juga seorang ahli optik kelahiran Persia di masa keemasan Islam, yaitu pada masa pemerintahan Abbasiyah di Baghdad. Ibnu Sahl dikenal karena dialah yang pertama menemukan hukum pembiasan cahaya, jauh sebelum Willebrord Snell mengklaim penemuan tersebut. 

Hukum pembiasan cahaya itu dituangkan Ibnu Sahl dalam risalah yang ditulisnya pada 984 M berjudul ‘On Burning Mirrors and Lenses’. Dalam risalah ilmu fisika yang sangat penting itu, Ibnu Sahl menjelaskan secara perinci dan jelas tentang cermin membengkok dan lensa membengkok serta titik api atau titik fokus. 

Secara matematis, hukum pembiasan yang dicetuskan Ibnu Sahl setara dengan hukum Snell. Ibnu Sahl menggunakan hukum pembiasan cahayanya untuk memperhitungkan bentuk-bentuk lensa dan cermin yang titik fokus cahayanya berada di sebuah titik poros. Sekitar 600 tahun kemudian, Snell juga mengungkapkan hal yang sama. Menurut Snell, sinar datang, garis normal, dan sinar bias terletak pada satu bidang datar.

Sejarah optik modern kerap kali menyebut nama Ibnu Haitham (965-1039 M) sebagai “Bapak Ilmu Optik Modern”. Ternyata, Ibnu Haitham pun banyak terpengaruh oleh Ibnu Sahl. Menurut R. Rashed (1993) dalam bukunya Geometrie et dioptrique au Xe siècle: Ibnu Sahl, al-Quhi et Ibnu al-Haytham menyatakan bahwa risalah Ibnu Sahl telah digunakan oleh Ibnu al-Haitham.


8. Ibnu Haitham


Abu Ali Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham atau Ibnu Haitham (lahir di Basra, 965 M dan meninggal di Kairo 1039 M), dikenal dalam kalangan cerdik pandai di Barat, dengan nama Alhazen, adalah seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Ia banyak pula melakukan penyelidikan mengenai cahaya, dan telah memberikan ilham kepada ahli sains barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler dalam menciptakan mikroskop serta teleskop. Bidang lain yang ditekuninya adalah fisika, optik dan matematika.

Ibnu Haitham tinggal di Kairo, Mesir dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menulis risalah dan mengajar. Karya Ibnu Haitham yang paling terkenal adalah Kitab al-Manazir (Buku tentang Optik) berupa 7 jilid risalah yang ditulisnya pada antara tahun 1011 sampai 1021. Karyanya ini kemudian diterjemahkan ke Bahasa Latin pada akhir abad ke-12 atau awal abad ke-13. 


7. Al-Khazini



Abu al-Fath Abd al-Rahman Mansour al-Khazini (wafat pada tahun 1121 M) adalah ilmuwan muslim yang ahli di bidang konstruksi, pengarang buku tentang teknik pengukuran (geodesi) dan kontruksi keseimbangan, kaidah mekanis, hidrostatika, fisika, teori zat padat, sifat-sifat pengungkit/tuas, serta teori gaya gravitasi (jauh 900 tahun sebelum Newton). Al-Khazini dulunya merupakan seorang budak di Merv. Oleh tuannya ia diajari matematika dan filsafat. Ia juga merupakan murid dari Umar Khayyam. Al-Khazini sendiri dikenal akan observasinya yang original. Hasil karyanya terkenal dan banyak digunakan masyarakat.


Thursday, December 3, 2020

6. Ibnu Rusydi



Ibnu Rusydi dilahirkan pada tahun 1126 M di Qurtubah (Kordoba) dari sebuah keluarga bangsawan terkemuka. Ayahnya adalah seorang ahli hukum yang cukup berpengaruh di Kordoba, dan banyak pula saudaranya yang menduduki posisi penting di pemerintahan. Latar belakang keluarga tersebut sangat mempengaruhi proses pembentukan tingkat intelektualitasnya di kemudian hari. Abul al-Walid Muhammad ibnu Ahmad ibnu Muhammad ibnu Rusydi, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ibnu Rusydi atau Averrous, merupakan seorang ilmuwan muslim yang sangat berpengaruh pada abad ke-12 dan beberapa abad berikutnya.

Ia adalah seorang filsuf yang telah berjasa mengintegrasikan Islam dengan tradisi pemikiran Yunani. Kebesaran Ibnu Rusydi sebagai seorang pemikir sangat dipengaruhi oleh zeitgeist atau jiwa zamannya. Abad ke-12 dan beberapa abad sebelumnya merupakan zaman keemasan bagi perkembangan ilmu pengetahuan di Dunia Islam, yang berpusat di Semenanjung Andalusia (Spanyol) di bawah pemerintahan Dinasti Abasiyah. Para penguasa muslim pada masa itu mendukung sekali perkembangan ilmu pengetahuan, bahkan mereka sering memerintahkan para ilmuwan untuk menggali kembali warisan intelektual Yunani yang masih tersisa, sehingga nama-nama ilmuwan besar Yunani seperti Aristoteles, Plato, Phitagoras, ataupun Euclides dengan karya-karyanya masih tetap terpelihara sampai sekarang.

Liku-liku perjalanan hidup pemikir besar ini sangatlah menarik. Ibnu Rusydi dapat digolongkan sebagai seorang ilmuwan yang komplit. Selain sebagai seorang ahli filsafat, ia juga dikenal sebagai seorang yang ahli dalam bidang kedokteran, sastra, logika, ilmu-ilmu pasti, di samping sangat menguasai pula pengetahuan keislaman, khususnya dalam tafsir Al-Qur’an dan Hadits ataupun dalam bidang hukum dan fiqih. Bahkan karya terbesarnya dalam bidang kedokteran, yaitu Al-Kuliyat Fil-Tibb (Hal-Hal yang Umum tentang Ilmu Pengobatan) telah menjadi rujukan utama dalam bidang kedokteran.

Kecerdasan yang luar biasa dan pemahamannya yang mendalam dalam banyak disiplin ilmu, menyebabkan ia diangkat menjadi kepala qadi atau hakim agung Kordoba, jabatan yang pernah dipegang oleh kakeknya pada masa pemerintahan Dinasti al-Murabitun di Afrika Utara. Posisi yang prestisius dan tentunya diimpikan banyak orang. Posisi tersebut ia pegang pada masa pemerintahan Khalihaf Abu Ya’kub Yusuf dan anaknya Khalifah Abu Yusuf.

Hal terpenting dari kiprah Ibnu Rusydi dalam bidang ilmu pengetahuan adalah usahanya untuk menerjemahkan dan melengkapi karya-karya pemikir Yunani, terutama karya Aristoteles dan Plato, yang mempunyai pengaruh selama berabad-abad lamanya. Antara tahun 1169-1195 M, Ibnu Rusydi menulis satu segi komentar terhadap karya-karya Aristoteles, seperti De Organon, De Anima, Phiysica, Metaphisica, De Partibus Animalia, Parna Naturalisi, Metodologica, Rhetorica, dan Nichomachean Ethick. Semua komentarnya tergabung dalam sebuah versi Latin melengkapi karya Aristoteles. Komentar-komentarnya sangat berpengaruh terhadap pembentukan tradisi intelektual kaum Yahudi dan Nasrani.

Analisanya telah mampu menghadirkan secara lengkap pemikiran Aristoteles. Ia pun melengkapi telaahnya dengan menggunanakan komentar-komentar klasik dari Themisius, Alexander of Aphiordisius, Al-Farabi, dan komentar Ibnu Sina. Komentarnya terhadap percobaan Aristoteles mengenai ilmu-ilmu alam, memperlihatkan kemampuan luar biasa dalam menghasilkan sebuah observasi. 


Wednesday, December 2, 2020

5. Fakhruddin Razi

Fakhr al-Din al-Razi atau Fakhruddin Razi adalah seorang ahli fisika, matematika, dokter, filosof, serta penulis ensiklopedia ilmu pengetahuan modern. Ia lahir pada tahun 1149 M di Rayy (Iran), dan meninggal pada tahun 1209 M di Herat (Afghanistan).


4. Salman al-Farisi

Salman al-Farisi adalah ilmuwan muslim yang pertama kali menciptakan strategi perang kanal, dan meriam pelontar/tank.


3. Banu Musa


Banu Musa bersaudara (abad ke 9) merupakan anak dari Musa ibnu Shakir al-Munajjim yang berasal dari Baghdad. Ketiga bersaudara ini memiliki kemampuan di bidang yang berbeda-beda, Muhammad ahli di bidang astronomi dan geometri, Ahmad lebih menguasai mekanika, sedangkan si bungsu Hasan menguasai geometri. Ayah mereka merupakan teman dekat Al-Ma’mun (anak Khalifah Harun al-Rashid). Dan ketika ayahnya meninggal maka ketiganya diasuh oleh Al-Ma’mun. Mereka mendapatkan pendidikan yang bagus di Baghdad, dan mempelajari geometri, mekanika, musik, matematika dan astronomi.

Banu Musa bersaudara merupakan pengarang buku Al-Hiyal (Buku Alat-alat Pintar) yang berisikan 100 macam mesin seperti pengisi tangki air otomatis, kincir air dan sistem kanal bawah tanah (sekarang yang terkenal Belanda), teknik pengolahan logam, tambang, lampu tambang, teknik survei dan pembuatan tambang bawah tanah.


2. Taqiuddin


Taqiuddin (wafat pada tahun 1565 M), dikenal sebagai ilmuwan muslim yang merintis jam mekanis pertama dan alarmnya yang digerakkan dengan pegas.


Tuesday, December 1, 2020

1. Tsabit bin Qurrah



Abu’l Hasan Tsabit bin Qurrah bin Marwan al-Sabi al-Harrani atau yang lebih dikenal dengan Tsabit bin Qurrah atau Thebit  (wafat pada tahun 901 M) merupakan seorang astronom dan matematikawan Arab. Tsabit lahir di kota Harran, Turki dan pernah menempuh pendidikan di Baitul Hikmah, Baghdad. Ia menerjemahkan buku Euclid yang berjudul Elements dan buku Ptolemy yang berjudul Geograpia. Ia adalah seorang ilmuwan muslim pertama yang menemukan teori tentang getaran/trepidasi.


19. Al-Tughra’i



Mu'ayyad al-Din Abu Isma‘il al-Husayn ibnu Ali al-Tughra'i (1061-1121 M) adalah seorang kimiawan dari Persia pada abad ke 11. Mu'ayyad al-Din al-Tughra'i, lahir di Isfahan pada tahun 1061 M, dan merupakan seorang fisikawan sekaligus kimiawan terkemuka, seorang pujangga, serta menjabat sebagai sekretaris administratif di pemerintahan dan karena itulah ia mendapatkan julukan Tughra'i. Ia pada akhirnya menjadi pejabat paling senior kedua setelah Vizier, di bidang administrasi sipil pada masa pemerintahan Seljuki.

Semasa hidupnya, Al-Tughra’i adalah seorang penulis yang terkenal dan cukup produktif, terutama pada bidang astrologi dan kimia, dan banyak diantara puisinya (diwan) yang masih ada hingga sekarang. Dalam bidang kimia, Al-Tughra'i sangat dikenal karena menulis ikhtisar berjudul Mafatih al-Rahmah wa-masabih al-Hikmah, yang mencakup secara luas kutipan dari tulisan-tulisan awal mengenai kimia Arab, dan juga terjemahan Arab dari risalah-risalah tua tentang ilmu kimia dari Zosimos, Panopolis yang ditulis dalam bahasa Yunani, yang hingga pada tahun 1995, secara salah dan tidak sengaja dikaitkan kepada kimiawan yang tak dikenal. Dan ketidakkonsekwenan dalam penyalinan huruf per abjad dan penulisan namanya ke bahasa Arab. 

Pada tahun 1112 M, ia juga menyusun sebuah buku yang berjudul: Kitab Haqa'iq al-Istishhad, sebuah sanggahan atau penolakan atas hal-hal ghaib dalam ilmu kimia oleh Ibnu Sina.


18. Ibnu al-Wafid

Ali ibnu al-Husain ibnu al-Wafid (997-1074 M), di Eropa dikenal sebagai Abenguefit, adalah seorang ahli farmakologi dan fisikawan dari Toledo. Dia merupakan pengikut dari Al-Mamun di Toledo. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah Kitab al-Adwiya al-Mufrada, yang diterjemahkan dalam bahasa Latin sebagai De Medicamentis Simplicibus. 

Pekerjaan Ibnu al-Wafid sebenarnya adalah sebagai ahli obat-obatan di Toledo, kemudian ia mempergunakan pengetahuannya mengenai teknik-teknik dan metode kimiawi untuk mengekstraksi setidaknya 520 jenis obat yang berbeda-beda dari berbagai jenis rumput dan tumbuh-tumbuhan. 

Salah seorang muridnya yang bernama Ali ibnu al-Lukuh menjadi penulis terkenal, yang salah satu bukunya yang cukup penting adalah ‘Umdat al-’Abib fi Ma’rifat al-Nabat li kulli Labib (Botanical Dictionary) atau Kamus Botanik.


17. Al-Simawi



Abu al-Qasim Ahmad ibnu Muhammad al-Iraqi al-Simawi (wafat pada tahun 1260 M) adalah seorang kimiawan muslim yang berasal dari Baghdad, Irak. Dia melakukan banyak sekali eksperimen kimia, dan ia juga merupakan pengarang dari kitab terkenal: Kitab al-lm al-Muktasab fi Zirat al-Dhahab (The Book of Acquired Knowledge Concerning the Cultivation of Gold). 

Kimiawan muslim lainnya yang bernama Al-Jildaki sangat terinspirasi oleh karya-karya Al-Simawi dan menulis banyak komentar dan berbagai referensi berkaitan dengan karya-karya Al-Simawi.

Monday, November 30, 2020

16. Abu'l Hasan ibnu Arfa Ra'a


Abu'l Hasan ibnu Arfa Ra'a (wafat pada tahun 1197 M) merupakan seorang kimiawan muslim dan penulis dari buku berjudul The Golden Spangle (Shudur al-Dahab) atau “Kerlip-kerlip Keemasan”.


15. Al-Jawbari


Nama lengkapnya adalah 'Abd al-Rahman ibnu 'Umar Zain al-Din al-Dimashqi. Tokoh ini lahir di Jawbar dan secara umum dikenal sebagai Al-Jawbari (wafat pada tahun 1222 M). Ia adalah seorang penulis Arab yang terkenal karena tulisannya yang mencela ketakhyulan yang diciptakan oleh para kimiawan gadungan.

Al-Jawbari menulis kitab “Book of Selected Disclosure of Secrets” (Kitab al-Mukhtar fi Kashf al-Asrar) menyingkap kecurangan dan kelakar yang memperdayakan, yang dilakukan oleh dukun atau tukang obat keliling, dokter gadungan, kimiawan palsu, dan penjaja rente. Dalam bukunya itu, ia menuliskan orang-orang yang mengaku sebagai kimiawan yang mengetahui ratusan cara dalam membuat trik dan tipu muslihat.


14. Hasan al-Rammah



Hasan al-Rammah (wafat pada tahun 1295 M) adalah seorang insinyur dan kimiawan dari Suriah. Hasan al-Rammah lahir di Damaskus, Suriah dan merupakan kimiawan muslim pertama yang berhasil menciptakan dan merekayasa peledak modern. Hasan al-Rammah menuliskan 107 resep bubuk mesiu. Dia memperbaiki bubuk mesiu yang awalnya ditemukan di Cina itu. Dialah ilmuwan muslim pertama yang menemukan peledak yang lebih modern.


13. Abu Mansur Muwaffaq


Abu Mansur Muwaffaq berasal dari Herat (sekitar abad ke-10). Ia adalah seorang ahli farmasi dan kimiawan yang sangat berpengaruh. Abu Mansur Muwaffaq adalah penulis dari The Foundations of the True Properties of Remedies, disitu ia menuliskan tentang 585 jenis obat. Ketika tengah terjadi krisis air di wilayah sekitar lingkungannya, maka Abu Mansur Muwaffaq pun mempelajari sifat-sifat air dan juga mendeskripsikan penyulingan air laut untuk diubah menjadi air minum. Dan untuk itu, ia pun mengarungi dan melakukan penelitian di wilayah-wilayah di Laut Khwarezm, Laut Kaspi, dan Laut Arab. Semasa hidupnya, ia sangat terinspirasi oleh karya-karya Abu Rayhan al-Biruni, terutama dalam bidang kimia dan farmakologi.


12. Mansur al-Kamili

Mansur ibnu Bara adh-Dhahabi al-Kamili (wafat pada tahun 1236 M) adalah seorang muslim ahli metallurgi, kimiawan, dan sosiolog dari Mesir, pada zaman pertengahan. Karya-karyanya antara lain adalah: “Chemical aspects of medieval minting in Egypt” (Kashf al-Asrar al-Cilmiya Bidar al-Darb al-Misriya).


11. Ibnu al-Rassam

Ibnu al-Rassam adalah seorang kimiawan muslim dan juga seorang desainer mosaic yang terkemuka pada masa dinasti Mamluk Bahri (1250-1382 M) di Mesir. Ibnu al-Rassam dikenal luas karena menemukan teknik tentang cara mendapatkan tembaga dari berbagai jenis malachite, ia juga menemukan indigo dengan memanaskan berbagai zat. Selain itu ia juga dikenal sebagai salah seorang sahabat dari kimiawan Abul Ashba ibnu Tammam (wafat pada tahun 1361 M).

10. Izz al-Din Aydamir al-Jaldaki

Izz al-Din Aydamir al-Jaldaki yang juga dikenal sebagai Al-Jildaki adalah seorang kimiawan Persia dari wilayah Khorasan, dia terpaksa meninggalkan tanah airnya karena invasi kerajaan Mongol. Al-Jildaki merupakan salah satu dari sekian banyak ahli kimia muslim pada abad pertengahan, dia adalah penulis dari sejumlah buku ilmiah, seperti Al-Misbah fi Ilm al-Miftah (Key of the Sciences of Lights) dan risalah kimia: The Proof Regarding Secrets of the Science of the Balance (Kitab al-Burhan fi Asrar 'Ilm al-Mizan). 

Al-Jildaki lahir di Jaldak, sebuah wilayah di Khorasan sekitar 15 kilometer dari Mashhad, Iran. Dalam tulisan-tulisannya, ia menyatakan bahwa dirinya telah menghabiskan 17 tahun berkelana melewati Iraq, Anatolia, Yaman, Afrika Utara, dan Suriah, hingga pada akhirnya menetap di Mesir dimana ia menyusun banyak risalah. 

Ia adalah seorang penulis yang cukup produktif di bidang ilmu kimia, yang sekarang dimiliki oleh United States National Library of Medicine. Risalah-risalahnya yang mencerminkan ketertarikan yang lebih luas dari sekedar ilmu kimia, melestarikan kutipan-kutipan luas dari penulis-penulis sebelumnya. Izz al-Din Aydamir al-Jaldaki wafat di Kairo, Mesir pada tahun 1342 M. 

Friday, November 27, 2020

9. Salimuzzaman Siddiqui




Salimuzzaman Siddiqui (19 Oktober 1897-14 April 1994), HI, MBE, SI, D.Phil adalah seorang ahli kimia asal Pakistan yang sangat berpengaruh dalam perkembangan ilmu pengetahuan di Pakistan. Dia adalah perintis teknik isolasi campuran kimia yang unik dari tanaman-tanaman seperti Neem (Azadirachta indica), Rauwolfia, dan tanaman-tanaman yang lain. Profesor Siddiqui adalah pendiri dan direktur dari Institut Penelitian Kimia H.E.J., yang telah berjasa dalam merintis penelitian farmakologi terhadap tanaman-tanaman di Asia Selatan yang substansi kimiawinya dapat diambil dan digunakan untuk obat-obatan.

Salimuzzaman Siddiqui dilahirkan di Subeha (Distrik Barabanki) dan mendapat pendidikan dasar di Lucknow dalam bahasa Urdu dan Persia. Ketertarikannya terhadap literatur, sastra, dan kaligrafi bermula dari ayahnya, Sheikh Muhammad Zaman. Pada tahun 1920, Siddiqui belajar di bidang obat-obatan di University College London. Setahun setelah itu dia pindah ke Universitas Frankfurt untuk studi dalam bidang kimia. Pada tahun 1927, Siddiqui meraih gelar doktornya di bawah bimbingan Profesor Julius von Bram.

Setelah lulus dari pendidikannya, Sidiqui kembali ke Universitas Tibbia Delhi di bawah supervisi Hakim Ajmal Khan. Pada tahun 1940, dia bergabung di Badan Penelitian Sains dan Industri India hingga 1951. Siddiqui akhirnya bermigrasi ke Pakistan oleh permintaan Perdana Menteri Liaquat Ali Khan pada tahun 1951. Di Pakistan dia dipercaya untuk memimpin aktivitas penelitian pemerintah. Pada tahun 1953, dia mendirikan Akademi Sains Pakistan sebagai lembaga riset non-politik dari berbagai ilmuwan terkemuka.

Hasil penelitian Siddiqui yang pertama kali adalah pada tahun 1931, yaitu penelitiannya tentang isolasi agen antiarithmik dari akar-akar tanaman Rauwolfia serpentina. Substansi yang ditemukannya diberi nama ajmalin. Setelah itu ekstraksi alkaloid lainnya adalah ajmalicin, (C21H24N2O3), isoajmalin, neoajmalin, serpentin, dan serpentinin. Banyak di antaranya yang masih dipakai di seluruh dunia untuk mengobati kegagalan jantung dan penyakit jiwa.

Siddiqui adalah orang yang pertama kali memperkenalkan zat-zat anthelmintic, antifungal, antibacterial, dan antiviral dari pohon Neem pada kimiawan-kimiawan dunia. Pada tahun 1942 dia berhasil mengekstraksi 3 campuran dari minyak Neem yang dinamakan nimbin, nimbinin, dan nimbidin. Zat-zat ini digunakan sebagai insektisida alami. Oleh karena penemuannya yang revolusioner, dia dianugerahi Order of the British Empire pada tahun 1946.


Thursday, November 26, 2020

8. Khalid ibnu Yazid




Khalid bin Yazid bin Muawwiyah (lahir pada tahun 635 M, dan wafat pada tahun 704 M) merupakan orang Arab pertama yang memiliki ketertarikan terhadap ilmu kimia dengan mempelajari tulisan-tulisan mengenai ilmu kimia yang berasal dari terjemahan buku karya kimiawan Yunani. Ia juga dikenal sebagai seorang penulis buku tentang ilmu kimia, banyak tulisannya mengenai ilmu kimia, namun buku-buku tersebut sekarang sudah tidak ada lagi yang bisa ditemukan. Namun demikian, sudah banyak ahli kimia yang mengutip tulisan dari Khalid bin Yazid. Buku-buku tentang ilmu kimia karya Khalid bin Yazid ditulis kembali oleh seorang kimiawan yang juga seorang penemu besar yang bernama Jabir ibnu Hayyan yang di Eropa dikenal sebagai Bapak Ilmu Kimia.

Kemunculan Khalid bin Yazid dalam kaitannya dengan ilmu kimia adalah: bahwa dia belajar ilmu kimia dan obat-obatan dari Monk Marianos. Ilmu kimia tersebut dijabarkan kembali oleh Khalid bin Yazid dari terjemahan bahasa Yunani (tahap pertama) dilanjutkan tahap inovasi serta penemuan, dengan menggunakan buku-buku bab ilmu kimia dari Yunani serta Mesir yang dia dapatkan, dengan demikian para ahli kimia Arab pun dapat mulai mencoba sekaligus mengadakan penelitian asli menggunakan acuan dari buku hasil terjemahan tersebut.

Gambaran dari praktek yang pertama kali dilakukan oleh para ahli kimia tersebut ditulis dalam kitab Al-Fihrist, yaitu ensiklopedia yang ditulis oleh Al-Nadim dari Arab pada tahun 988 M. Dalam ensiklopedia tersebut, ada bab yang membahas tentang ilmu kimia yang menyebutkan asal-usul dari ilmu tersebut, dan juga terdapat daftar nama-nama dari para ahli kimia Yunani yang termashyur pada masa itu. Dan juga ilmuwan Arab, seperti Yazid bin Khalid, Jabir ibnu Hayyan, Ar-Razi, Ibnu Wahshiyya serta Dhu'n-Nun (berkebangsaan Mesir). 

Khalid bin Yazid menulis tiga risalah tentang ilmu kimia:

Al-Ser al-Badea fi Fak al-Ramz al-Manea

Ferdous al-Hekma fi Elm al-Chemea, serta

Maqalata Marianos Al-Raheb.


7. Mostafa el-Sayed



Mostafa el-Sayed (lahir pada tanggal 8 Mei 1933) adalah seorang kimiawan Mesir-Amerika, peneliti non sains yang terkemuka, anggota dari The National Academy of Sciences dan seorang penerima penghargaan US National Medal of Science. Ia juga dikenal karena hukum spectroscopy yang dinamai sesuai dengan namanya yaitu: The El-Sayed rule.

Ia mendapatkan gelar sarjananya di Ain Shams University, fakultas Ilmu Pengetahuan, pada tahun 1953. El-Sayed mendapatkan gelar doktoralnya di Florida State University bersama Michael Kasha, murid dari G. N. Lewis yang legendaris. Dia adalah peneliti di Harvard University, Yale University, dan The California Institute of Technology sebelum bergabung di The University of California di Los Angeles pada tahun 1961. Ia kemudian menjadi profesor pengawas pada bidang kimia dan biokimia di Georgia Institute of Technology. Di sana, ia menjabat sebagai kepala laboratorium Laser Dynamics. El-Sayed sebelumnya juga menjabat sebagai kepala editor di Journal of Physical Chemistry.


6. Ahmed Zewail




Dr. Ahmed Hassan Zewail adalah seorang kimiawan berkebangsaan Mesir yang dikenal karena femtokimia. Ia lahir pada 26 Februari 1946, di Damanhur, Mesir. Ia juga merupakan seorang tokoh pakar sains Mesir yang telah memenangkan Hadiah Nobel 1999 dalam bidang kimia.

Dr. Zewail merupakan ilmuwan muslim kedua setelah Profesor Abdus Salam dari Pakistan yang menerima penghargaan tersebut karena jasanya menemukan femtokimia, yaitu studi mengenai reaksi kimia melintasi femtoseconds. Dengan menggunakan teknik laser ultracepat (terdiri dari cahaya laser ultrapendek), teknik ini memberikan deskripsi reaksi pada tingkat atom. Dapat dilihat sebagai bentuk kehebatan tinggi dari cahaya fotografi. Selain itu ia juga pernah mendapat Jabatan Linus Pauling dalam bidang Fisika Kimia di California Institute of Technology, Pasadena sejak tahun 1990.

Kini ia menetap di San Marino, California bersama isterinya Dema Zewail yang merupakan ahli obat-obatan di Universitas California, Los Angeles (UCLA).

Fakta menarik tentang Dr. Ahmad Zewail:

  • Ia merupakan ilmuwan kedua muslim yang mendapat Hadiah Nobel dalam bidang kimia pada tahun 1999.
  • Orang tuanya begitu mengharapkannya menjadi seorang profesor. Malah sejak kecil, orang tuanya telah meletakkan tanda nama “Dr. Ahmed” di bilik bacaannya.
  • Selain membaca, beliau sangat menyukai musik.
  • Ia tidak menyukai ilmu sosial karena mengharuskan seseorang itu mengingat suatu subjek sedangkan ia lebih suka bertanya “kenapa” dan “bagaimana”.
  • Minatnya dalam bidang matematika dan kimia bermula sejak kecil. Ia pernah membuat beberapa alat uji kaji termasuk sebuah perlengkapan dari alat pembakar milik ibunya (yang digunakan untuk membuat kopi).
  • Bapak dari 4 orang anak ini memiliki 2 kewarganegaraan yaitu Mesir dan Amerika Serikat.
  • Ia memegang 2 jabatan profesor di Caltech yaitu profesor fisika dan kimia.


5. Muhammad ibnu Zakaria al-Razi


Al-Razi hidup antara tahun 864-930 M dan namanya dilatinkan menjadi Rhazes. Ia merupakan seorang dokter klinis yang terbesar pada masa itu dan pernah mengadakan satu penelitian Al-Kimi atau sekarang lebih terkenal disebut ilmu kimia. Di dalam penelitiannya pada waktu itu Al-Razi sudah menggunakan peralatan khusus dan secara sistematis hasil karyanya dibukukan, sehingga orang sekarang tidak sulit mempelajarinya. Disamping itu ia telah mengerjakan pula proses kimiawi seperti: distilasi, kalsinasi dan sebagainya dan bukunya tersebut merupakan suatu buku pegangan Laboratorium Kimia yang pertama di dunia. Bidang lain yang ditekuninya adalah pengobatan mata, pengobatan cacar, kimia, dan astronomi.


4. Abu Bakar ar-Razi


Abu Bakar ar-Razi (wafat pada tahun 935 M) membagi zat kimia ke dalam kategori mineral, nabati dan hewani (klasifikasi zat kimia) jauh sebelum Dalton melakukannya. Ar-Razi juga melakukan pembagian fungsi tubuh manusia berdasarkan reaksi kimia komplek.


3. Al-Majriti


Nama lengkapnya adalah Abul Qasim Maslamah bin Ahmad al-Majriti. Al-Majriti adalah seorang astronom, kimiawan, matematikawan, dan ulama Arab Islam dari Al-Andalus (Spanyol yang dikuasai Islam). Abdul Qasim lahir di Madrid dan meninggal sekitar tahun 1007-1008 M). 

Ia ikut serta dalam penerjemahan Planispherium karya Ptolemeus, memperbaiki terjemahan Almagest, memperbaiki tabel astronomi dari Al-Khwarizmi, menyusun tabel konversi kalender Persia ke kalender Hijriah, serta mempelopori teknik-teknik geodesi dan triangulasi. 

Ia juga ditulis sebagai salah satu penulis Ensiklopedia Ikhwan as-Shafa, tapi kecil kemungkinan bahwa ia benar-benar salah satu penulisnya. Dalam bidang kimia, Al-Majriti membuktikan hukum ketetapan massa (900 tahun sebelum Lavoisier).


2 Al-Kindi



Nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Yakub ibnu Ishak al-Kindi. Di dunia barat dia dikenal dengan nama Al-Kindus. Memang sudah menjadi semacam adat kebiasaan orang barat pada masa lalu dengan melatinkan nama-nama orang terkemuka, sehingga kadang-kadang orang tidak mengetahui apakah orang tersebut muslim atau bukan. Tetapi para sejarawan kita sendiri maupun Barat mengetahui dari buku-buku yang ditinggalkan bahwa mereka adalah orang Islam, karena karya orisinil mereka dapat diketahui dalam bentuk tulisan ilmiah mereka sendiri. Al-Kindi adalah ilmuwan ensiklopedi, pengarang 270 buku, ahli matematika, fisika, musik, kedokteran, farmasi, geografi, ahli filsafat Arab dan Yunani kuno. Al-Kindi adalah seorang filsuf muslim dan juga seorang ilmuwan. Sedangkan bidang disiplin ilmunya adalah filsafat, matematika, logika, kimia, musik, dan ilmu-ilmu kedokteran.

Wednesday, November 25, 2020

1. Jabir ibnu Hayyan



Orang-orang Eropa menamakannya Gebert, ia hidup antara tahun 721-815 M. Jabir ibnu Hayyan adalah seorang tokoh Islam yang mempelajari dan mengembangkan dunia Islam yang pertama. Ilmu tersebut kemudian berkembang dan kemudian kita mengenalnya sebagai ilmu kimia. Bidang keahliannya (dimana dia mengadakan peneltian) adalah bidang logika, filsafat, kedokteran, fisika, mekanika, dan sebagainya. 

Jabir ibnu Hayyan juga merupakan penemu sejumlah perlengkapan alat laboratorium modern, sistem penyulingan air, identifikasi alkali, asam, garam, mengolah asam sulfur, soda api, asam nitrihidrokhlorik pelarut logam dan air raksa (jauh sebelum Mary Mercurie menemukannya), pembuat campuran komplek untuk cat. Kontribusi terbesar Jabir adalah dalam bidang kimia. Keahliannya ini didapatnya dengan ia berguru pada Barmaki Vizier, di masa pemerintahan Harun al-Rasyid di Baghdad. 

Ia mengembangkan teknik eksperimentasi sistematis di dalam penelitian kimia, sehingga setiap eksperimen dapat direproduksi kembali. Jabir menekankan bahwa kuantitas zat berhubungan dengan reaksi kimia yang terjadi, sehingga dapat dianggap Jabir telah merintis ditemukannya hukum perbandingan tetap. Kontribusi lainnya antara lain dalam penyempurnaan proses kristalisasi, distilasi, kalsinasi, sublimasi dan penguapan serta pengembangan instrumen untuk melakukan proses tersebut.


C. Ilmuwan Muslim Membawa Pencerahan yang Menerangi Seluruh Dunia


Seperti perabadan lain, Islam juga mengalami beberapa periode dalam sejarah. Ada satu periode dimana Islam bisa menunjukkan eksistensinya di dunia. Periode tersebut terjadi pada saat para filsuf, ilmuwan, dan insinyur muslim bisa memberikan banyak konstribusi terhadap perkembangan teknologi dan kebudayaan. Mereka melakukannya baik dengan menjaga tradisi yang telah ada maupun dengan menciptakan penemuan-penemuannya sendiri.

Pada periode Zaman Kegelapan (The Dark Ages) di Eropa, yaitu pada era yang terbentang selama “abad pertengahan” (medieval), yakni masa-masa di mana masyarakat Eropa didominiasi oleh pemerintahan dan kekuasaan agama. Para sejarawan biasanya merujuk antara abad ke-4 hingga abad ke-15 sebagai masa-masa peradaban skolastik atau peradaban yang dikuasai oleh para penguasa Gereja. Masa-masa inilah yang merupakan periode yang ingin dikubur oleh tokoh-tokoh Renaissance. Renaissance di Eropa terjadi karena para intelektual merasa bahwa pihak gereja sangat otoriter terutama terhadap penemuan-penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan yang dirasakan tidak sesuai dengan gereja atau dianggap dapat mengurangi kekuasaan gereja. 

Islam juga memiliki masa-masa kejayaan dan masa-masa kegelapan. Meski tidak setepat pengalaman Eropa, kita bisa membagi sejarah kegemilangan Islam pada masa-masa antara abad ke-7 hingga pertengahan abad ke-13, atau hampir berbarengan dengan masa-masa kegelapan di Eropa. 

Dengan demikian, ketika di belahan bumi Eropa sedang berada dalam zaman kegelapan, masyarakat Islam justru mengalami kemajuan dalam bidang filsafat, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Mereka mengambil ilmu-ilmu yang ada di Yunani dan Romawi kemudian diterjemahkan dalam bahasa Arab. Selain itu, perkembangan Islam juga dihubungkan dengan letak geografis. 

Sebelum Islam datang, kota Mekah merupakan pusat perdagangan di Jazirah Arab, Nabi Muhammad SAW sendiri juga berasal dari golongan pedagang. Tradisi Ziarah Mekah membuat kota itu menjadi pusat pertukaran gagasan dan barang. Pengaruh yang dipegang oleh para pedagang muslim dalam jalur perdagangan Afrika-Arab dan Asia-Arab sangat besar dan penting. Hal tersebut membuat peradaban Islam tumbuh, berkembang dan meluas dengan berdasarkan perekonomian dagangnya.

- Sarjana Islam pada Zaman Pertengahan

Sewaktu penaklukan awal Islam, tentara Arab muslim, yang pada waktu itu dipimpin oleh Khalid ibnu al-Walid, menaklukkan kerajaan Persia Sassanid dan lebih dari setengah kekaisaran Byzantium (Romawi), dan mendirikan kerajaan Arab sepanjang Timur Tengah, Asia Tengah, dan Afrika Utara, diikuti pengembangan selanjutnya di sepanjang Pakistan, Italia selatan dan Semenanjung Iberia. Oleh sebab itu, kerajaan-kerajaan Islam mewarisi ilmu dan kemahiran Timur Tengah silam yaitu dari Yunani, Persia dan India.

Sebagai contoh: Seni pembuatan kertas diperoleh dari budaya Cina dalam Pertempuran Talas (751 M), dan mendorong pembangunan pabrik kertas di Samarkand dan Baghdad. Kemudian Arab memperbaiki teknik Cina dengan menggunakan bantuan kain linen yang dihasilkan dari kulit kayu mulberi.

Ilmuwan Arab dan ilmuwan Iran tinggal dan mengamalkan ilmu masing-masing di tanah jajahan Islam sewaktu Zaman Kegemilangan Islam, walaupun tidak semua ilmuwan dalam kerajaan Islam berbangsa Arab atau beragama Islam. Bahkan sebagian besar sarjana menolak penggunaan istilah “Arab-Islam” karena dirasakan istilah itu tidak menggambarkan keberagaman para sarjana Timur yang telah menyumbangkan ilmu pengetahuan pada zaman itu. 

Pada Zaman Kegemilangan Islam, para sarjana Islam membuat pengembangan penting dalam bidang sains, matematika, pengobatan, ilmu falak, mekanika, dan bidang-bidang lain. Jumlah karya penting dalam bidang sains dan matematika, yang ditulis asli berbahasa Arab adalah lebih besar daripada jumlah keseluruhan karya berbahasa Latin dan Yunani dalam bidang yang sama.

Perbedaan paling nyata antara periode kegemilangan dan kegelapan adalah bahwa pada masa kegemilangan, semangat dan pencapaian budaya, seni, pemikiran, dan filsafat Islam begitu besar. Ratusan ilmuwan dilahirkan dan ribuan buku ditulis pada periode ini. Sementara itu, pada masa kegelapan, produksi intelektualisme menurun drastis dan ilmuwan besar tak lagi dilahirkan.

- Institusi Ilmu pada Masa Keemasan Islam

Terdapat beberapa institusi penting yang tidak ada pada zaman kuno selain dalam dunia Islam Zaman Pertengahan, contohnya adalah rumah sakit umum dan rumah sakit jiwa, perpustakaan umum, universitas yang menerbitkan ijazah, balai ilmu falak, dan waqaf. 

Sir John Bagot Glubb menulis, “Pada zaman Ma'mun, sekolah-sekolah kedokteran sangat banyak didirikan di Baghdad. Rumah sakit umum pertama dibuka di Baghdad pada zaman pemerintahan Khalifah Harun al-Rashid. Dengan pembangunan sistem ini, para ahli pengobatan dan pembedahan dilantik menjadi dokter untuk mengobati dan menyembuhkan pasien. Selain itu juga menganugerahkan ijazah kepada mereka yang dinilai layak dan memenuhi syarat menjadi ahli medis. Rumah sakit pertama di Mesir dibuka pada tahun 872 M dan sesudah itu rumah sakit-rumah sakit umum dibuka di seluruh kerajaan Islam, dari Al-Andalus dan Maghreb sampai ke wilayah Persia.”

Universitas Al-Karaouine di Fez, Maghribi, yang didirikan pada tahun 859 M tercatat dalam Guinness Book of Record sebagai universitas tertua di dunia. Sedangkan universitas Al-Azhar yang didirikan di Kaherah, Mesir pada abad ke-10, menawarkan beberapa ijazah akademik diantaranya ijazah pascasarjana, dianggap sebagai universitas murni pertama.

Beberapa ciri tersendiri perpustakaan modern diperkenalkan dalam dunia Islam. Perpustakaan bukan saja merupakan kumpulan manuskrip lama seperti pada zaman kuno, tetapi juga berfungsi sebagai perpustakaan umum, pusat pendidikan dan penyebaran ilmu pengetahuan, dan kadangkala sebagai tempat menuntut ilmu para sarjana atau murid. Konsep katalog perpustakaan juga diperkenalkan di dalam perpustakaan Islam Zaman Pertengahan, dan buku-buku disusun mengikuti genre dan kategori tertentu. 

Satu ciri yang sering terdapat pada Zaman Keemasan Islam ialah terdapat begitu banyak ilmuwan muslim yang ahli dalam pelbagai bidang (polymath). Mereka ini dikenal sebagai Hakim dan mereka menguasai ilmu yang luas dalam beberapa bidang agama dan sekular. Sarjana yang menguasai pelbagai disiplin ilmu sering ditemui pada Zaman Keemasan Islam sehingga sukar mencari seorang sarjana yang ahli hanya dalam satu bidang ilmu saja. Tokoh-tokoh genius polymath ini diantaranya adalah: 

- Al-Biruni

- Al-Jahiz

- Al-Kindi 

- Abu Bakar Muhammad al-Razi 

- Ibnu Sina

- Ibnu Bajjah 

- Ibnu Zuhr 

- Ibnu Tufayl 

- Ibnu Rushd 

- Al-Suyuti 

- Abu Musa Jabir bin Hayyan 

- Al-Khawarizmi 

- Abbas ibnu Firnas 

- Al-Farabi 

- Al-Muqaddasi 

- Ibnu al-Haytham 

- Umar Khayyam 

- Al-Ghazali

- Al-Jazari

- Al-Nafis 

- Al-Tusi

- Ibnu al-Shatir 

- Ibnu Khaldun, dll

Pada abad ke-12 dan ke-13 banyak teori-teori ilmu falak yang bermutu tinggi dihasilkan. Karya Ibnu al-Shatir (1304-1375 M) di Damsyik menjadi salah satu contoh yang menarik. Keadaan demikian juga terdapat dalam bidang-bidang lain seperti di bidang pengobatan dengan karya-karya Ibnu al-Nafis dan Serafeddin Sabuncuoglu, dan sains sosial dengan Ibnu Khaldun dan Muqaddimahnya (1370 M). Malah, Muqaddimah sendiri mencatatkan keadaan ini, dengan menyatakan bahwa sains berkembang pesat di Persia, Syria dan Mesir. Pada tahun 1258 M di Damsyik dan Kaherah, dalam usaha memelihara khazanah ilmu pengetahuan Islam, banyak sarjana-sarjana muslim yang menghasilkan ensiklopedia (termasuk ensiklopedia kedokteran sebesar 80 jilid oleh Ibnu al-Nafis).

- Pernyataan-pernyataan dari Para Cendekiawan

Robert Briffault menulis di dalam bukunya, “Hutang sains kita kepada sains Arab bukan dalam bentuk penemuan yang mengejutkan atau teori-teori revolusioner; melainkan lebih banyak kepada budaya Arab, ia berhutang akan keberadaannya. Dunia purba, seperti yang dapat kita lihat, ialah pra-saintifik. Ilmu falak dan matematika Yunani merupakan import dalam bentuk sudah jadi, yang tidak pernah betul-betul kita hayati asal mula pembentukannya. Orang Yunani membuat sistem, membuat teori, dan menjelaskannya. Akan tetapi cara penelitian yang sabar, pengumpulan ilmu, kaedah rapi sains, perhatian yang rinci dan teliti serta memakan waktu lama, kesemuanya asing bagi kita. Apa yang kita sebut sebagai sains yang timbul di Eropa merupakan hasil dari semangat baru, cara-cara penelitian baru, kaedah membuat ujikaji, pemerhatian, dll, yang semua itu diperkenalkan kepada Eropa oleh orang Arab. Sains ialah sumbangan terbesar orang Arab kepada dunia modern, walaupun membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkan buah. Namun bukan sains saja yang telah menghidupkan kembali Eropa. Banyak pengaruh dari kebudayaan Islam yang memancarkan cahaya awal ke atas kehidupan Eropa.”

Demikian pula George Sarton menulis di dalam bukunya Pengenalan kepada Sejarah Sains, “Kejayaan utama, dan yang paling tidak terlihat pada Zaman Pertengahan ialah pembentukan semangat ujikaji (pasca penelitian), dan hal ini sebagian besar dicetuskan oleh orang-orang Islam hingga abad ke-12.” 

“Hubungan efektif tunggal antara sains lama dan baru, disumbangkan oleh orang Arab. Zaman Gelap (Zaman Pertengahan) merupakan lubang gelap dalam sejarah sains di Eropa, dan selama seribu tahun tidak ada seorang pun ahli sains yang ternama melainkan di dalam kekhalifahan Arab.” Oliver Joseph Lodge

Howard R. Turner dalam bukunya yang bertajuk Science in Medieval Islam pun mengakui bahwa ilmu optik merupakan penemuan asli dari sarjana Muslim. “Ilmu optik merupakan penemuan ilmiah para sarjana muslim yang paling orisinal dan penting dalam sejarah Islam,” ungkap Turner.

“Selama 500 tahun Islam telah menguasai dunia dengan kekuatan, ilmu pengetahuan dan peradabannya yang tinggi.” Jacques C. Reister

“Maka dari itu, cukup beralasan jika kita mengatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’nya, barat bukanlah apa-apa.” Montgomery Watt

Sumbangsih peradaban Islam terhadap dunia, termasuk dunia Barat, juga diakui oleh Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Hal itu terungkap saat dia berpidato tanggal 5 Juli 2009. Dia menyatakan bahwa,  “Peradaban berhutang besar pada Islam. Islamlah yang mengusung lentera ilmu selama berabad-abad serta membuka jalan bagi era Kebangkitan Kembali (Renaissance) dan era Pencerahan (Enlightenment) di Eropa. Ilmuwan Islamlah yang mengembangkan rumus aljabar, kompas magnet dan alat navigasi, keahlian dalam menggunakan pena dan percetakan, dan pemahaman mengenai penularan penyakit serta pengobatannya.”


3. Al-Farazi

Al-Farazi (wafat pada tahun 790 M) adalah perintis alat astrolab planisferis yaitu mesin hitung analog pertama, sebagai alat bantu astronomi...