Monday, December 21, 2020

3. Ibnu Nafis



Ibnu Nafis atau Al-Din Abu al-Hasan Ali ibnu Abi al-Hazm al-Qarshi al-Dimashqi merupakan orang pertama yang secara akurat mendeskripsikan peredaran darah dalam tubuh manusia pada tahun 1242, walaupun kemudian Harvey (tahun 1628) dianggap sebagai yang pertama kali menemukannya. Penggambaran kontemporer proses ini telah bertahan cukup lama. 

Ibnu Nafis juga merupakan orang pertama yang diketahui telah mendokumentasikan sirkuit paru-paru. Secara besar-besaran karyanya tak tercatat sampai ditemukan di Berlin pada 1924. Dia lahir di Syam tahun 1210 dan meninggal di Kairo, Mesir pada 17 Desember 1288 di usia 78 tahun.

Dia biasa dipanggil dengan Ad-Dimasyqi, karena ia dilahirkan di Syam dan awal masa mudanya ia habiskan di kota Damaskus, sebagaimana dia juga dipanggil dengan Al-Mishri, karena ia telah mengabiskan sebagian besar usianya di kota Kairo dan memiliki ikatan yang kuat dengan Mesir dan penduduknya. Selain itu, ia juga mempunyai nama panggilan lain, yaitu The Second Avicenna (Ibnu Sina Kedua), yang diberikan oleh para pengagumnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Ibnu Nafis menempuh pendidikan kedokteran di Medical College Hospital. Gurunya adalah Muhalthab al-Din Abd al-Rahim. Selain itu, ia juga mempelajari hukum Islam. Di kemudian hari, selain sebagai dokter, Ibnu Nafis juga dikenal sebagai pakar hukum Islam bermazhab Syafi’i. Pada tahun 1236, setelah menyelesaikan pendidikannya di bidang kedokteran dan hukum Islam, Ibnu Nafis meninggalkan tanah kelahirannya menuju Kairo, Mesir. Di sana, ia belajar di Rumah Sakit Al-Nassiri. Prestasinya yang gemilang membuat ia kemudian ditunjuk sebagai direktur rumah sakit tersebut.

Sebagai seorang dokter, Ibnu Nafis tidak pernah merasa puas dengan ilmu kedokteran yang dimilikinya. Ia terus memperkaya pengetahuannya melalui berbagai observasi. Hal inilah yang membuat namanya terkenal. Ia adalah dokter pertama yang mampu menerangkan secara tepat tentang paru-paru dan memberikan gambaran mengenai saluran pernapasan, juga interaksi antara saluran udara dengan darah dalam tubuh manusia. Ibnu Nafis dikenal sebagai seorang dokter muslim yang mempunyai pendapat dan pemikiran yang masih murni, terbebas dari berbagai pengaruh Barat.

Dalam studinya, Ibnu Nafis menggunakan beberapa metode, yaitu observasi, survei, dan percobaan. Ia mempelajari ilmu kedokteran melalui pengamatan terhadap sejumlah gejala dan unsur yang mempengaruhi tubuh. Menurut Ibnu Nafis, selain melakukan pengobatan, memeriksa unsur-unsur penyebab munculnya penyakit juga perlu. Selain itu, ia juga memaparkan mengenai fungsi pembuluh arteri dalam jantung sebagai pemasok darah bagi otot jantung (Cardiac Musculature). Penemuannya mengenai peredaran darah di paru-paru ini merupakan penemuan yang menarik. Sehubungan dengan hal itu, Ibnu Nafis dianggap telah memberikan pengaruh besar bagi perkembangan ilmu kedokteran Eropa pada abad XVI. Lewat penemuannya tersebut, para ilmuwan menganggapnya sebagai tokoh pertama dalam ilmu sirkulasi darah.


2. Al-Razi

Al-Razi adalah sang pengarang dari kitab Sirr al-Asrar (Rahasianya Rahasia) yang mengulas tentang penyulingan minyak mentah, pembuatan ekstrak parfum/minyak wangi (sekarang Perancis yang terkenal), ekstrak tanaman untuk keperluan obat, pembuatan sabun, kaca warna-warni, keramik, tinta, bahan celup kain, ekstrak minyak dan lemak, zat warna, bahan-bahan dari kulit, ia juga mengembangkan penelitian tentang penyakit wanita dan kebidanan, penyakit keturunan, penyakit mata, penyakit campak dan cacar.


1. Ibnu Bajjah



Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Yahya bin ash-Shayigh. Ia merupakan filsuf dan dokter muslim Andalusia yang dikenal di Barat dengan nama latinnya, Avempace. Ibnu Bajjah lahir di Saragossa di tempat yang kini bernama Spanyol dan meninggal di Fez pada 1138 M. Ibnu Bajjah berasal dari keluarga At-Tujib, karenanya ia juga dikenal sebagai At-Tujibi. 

Meskipun kehidupannya tidak diketahui secara pasti, begitu juga mengenai pendidikan yang ditempuhnya dan guru yang mengajarnya, ia adalah seorang sarjana bahasa dan sastra Arab yang ulung serta menguasai dua belas macam ilmu pengetahuan ketika ia berada ke Granada.

Pemikiran Ibnu Bajjah memiliki pengaruh yang jelas pada Ibnu Rushdi dan The Great Albert. Kebanyakan buku dan tulisannya tidak lengkap (atau teratur baik) karena kematiannya yang cepat. Ia memiliki pengetahuan yang luas pada kedokteran, matematika, dan astronomi. Sumbangan utamanya pada filsafat Islam ialah gagasannya pada Fenomenologi Jiwa, namun sayangnya tak lengkap. Ekspresi yang dicintainya ialah Gharib dan Motivahhed ekspresi yang diakui dan terkenal dari Gnostik Islam. Ia juga menulis Risalah al-Wada’, risalah ini membahas Penggerak Pertama (Tuhan), manusia, alam, dan kedokteran.


Sunday, December 20, 2020

12. Al-Karaji




Abu Bakar bin Muhammad bin al-Husain al-Karaji atau yang lebih dikenal dengan Al-Karaji (953-1029 M) merupakan seorang matematikawan, insinyur dan ahli hidrologi dari Persia. Ilmuwan muslim yang hidup pada abad ke-10 ini memiliki beberapa karya yang terkenal, diantaranya adalah Al-Badi’ fi’l-Hisab (Perhitungan yang Indah), Al-Fakhri fi’l-Jabr Wa’l-Muqabala (Aljabar yang Agung), dan Al-Kafi fi’l-Hisab (Perhitungan yang Memadai).

Al-Karaji juga dikenal dunia sebagai Al-Karkhi. Selain sebagai matematikawan ia dikenal juga sebagai ahli hidrologi. Hidrologi merupakan cabang ilmu bumi yang mempelajari pergerakan, distribusi, dan kualitas air di seluruh bumi, termasuk siklus hidrologi dan sumber daya air. Al-Karaji berjasa dalam mengembangkan studi hidrologi di dunia Islam. Lewat bukunya Kitab Inbat al-Miyah al-Khafiya, ia mengkaji dan menyumbangkan pemikirannya dalam ilmu ekstraksi air di bawah tanah. Berkat kehebatannya, ia bahkan mendapat julukan sebagai pelopor mesin tenaga air.

Sejarah sains modern memandang Al-Karaji sebagai ahli matematika berkaliber tertinggi. Karyanya yang kekal pada bidang matematika masih diakui hingga hari ini, yakni mengenai kanonik tebel koefisien binomium (dalam pembentukan hukum dan perluasan bentuk).

Al-Karaji dianggap sebagai ahli matematika terkemuka dan sebagai orang pertama yang membebaskan aljabar dari operasi geometris yang merupakan produk aritmatika Yunani dan menggantinya dengan jenis operasi yang merupakan inti dari aljabar pada saat ini.

Karyanya pada aljabar dan polinomial memberikan aturan pada operasi aritmatika untuk memanipulasi polinomial. Dalam karya pertamanya di Perancis, matematikawan Franz Woepcke memuji Al-Karaji sebagai ahli matematika pertama di dunia yang memperkenalkan teori aljabar kalkulus.

Al-Karaji menginvestasikan koefisien binomium segitiga Pascal. Dia juga yang pertama menggunakan metode pembuktian dengan induksi matematika untuk membuktikan hasilnya, ia berhasil membuktikan kebenaran rumus jumlah integral kubus, yang sangat penting hasilnya dalam integral kalkulus.

J.J O’Connor dan E.F Robertson dalam bukunya pernah mengatakan bahwa karya Al-Karaji memegang tempat penting dalam sejarah matematika. Ia banyak terpengaruh dan terinspirasi karya-karya aritmatika Diophantus, dalam konsepsi aljabar.

Dedikasinya yang tinggi dalam bidang matematika dan hidrologi membuatnya banyak menghasilkan karya yang monumental. Selain Kitab Inbat al-Miyah al-Khafiya, ia juga menulis sederet karya lainnya. Sayangnya beberapa karyanya yang penting itu telah hilang.


11. Ibnu Turk



‘Abd al-Hamid ibnu Turk (wafat pada tahun 830 M), yang juga dikenal sebagai ‘Abd al-Hamid ibnu Wase ibnu Turk Jili, adalah seorang matematikawan muslim dari Turki pada abad ke-9. Tidak banyak yang diketahui tentangnya. Dua catatan mengenai dirinya yang ditulis oleh Ibnu Nadim dan lainnya ditulis oleh Al-Qifti, ternyata tidak identik. Namun pada tulisan Al-Qifi menyebutkan bahwa namanya ‘Abd al-Hamid ibnu Wase ibnu Turk Jili. Jili artinya dari Gilan. 

Ibnu Turk menulis sebuah karya yang membahas tentang aljabar namun hanya satu bab, dan dinamakan “Logical Necessities in Mixed Equations”, yaitu tentang pemecahan persamaan kuadrat. Ia menulis sebuah manuskrip berjudul “Logical Necessities in Mixed Equations”, yang mirip dengan Al-Jabr yang ditulis oleh Al-Khwarzimi, yang diterbitkan secara hampir bersamaan waktunya, atau bahkan mungkin lebih awal dari pada Al-Jabr. Manuskrip tersebut memberikan gambaran geometris yang persis sama dengan yang ditemukan di dalam Al-Jabr, dan contoh kasus yang juga persis sama dengan yang ditemukan di dalam Al-Jabr, yang bahkan juga memberikan bukti-bukti geometris yang sama bahwa jika diskriminannya negatif maka persamaan kuadratnya adalah nol. Kemiripan antara kedua buah karya tersebut membuat para sejarawan berkesimpulan bahwa ilmu aljabar mungkin telah ada dan berkembang pada masa Al-Khwarizmi dan 'Abd al-Hamid.


Wednesday, December 16, 2020

10. Al-Sijzi



Nama lengkapnya adalah Abu Sa'id Ahmed ibnu Mohammed ibnu Abd Jalil Sijzi. Sijzi adalah singkatan dari Sijistani. Dia adalah seorang astronom dan matematikawan berkebangsaan Persia dari Sistan, sebuah wilayah yang terletak di barat daya Afghanistan. Al-Sijzi lahir sekitar tahun 945 M, dan wafat pada tahun 1020 M. Fokus pengetahuannya adalah astronomi. Ia memiliki pengetahuan sangat luas yang didapatkannya dari berbagai literatur. Semasa hidupnya, ia bekerja untuk 'Adud al-Daula dan pangeran Balkh. Ia juga bekerja di Shiraz, melakukan pengamatan astronomik dari tahun 969 M hingga 970 M. Al-Sijzi juga banyak menghasilkan karya-karya di bidang geometri.

Al-Biruni pernah menyatakan bahwa Al-Sijzi menemukan sebuah alat astronomik yang dinamakan “Zuraqi”, yang desainnya didasarkan pada ide bahwa bumi berputar: “Saya pernah melihat alat astronomik yang dinamakan Zuraqi yang diciptakan oleh Abu Sa'id Sijzi. Saya sangat menyukainya dan memuji karyanya, dimana alat tersebut memberikan gambaran baru tentang ide bahwa bumi itu berputar dan bukannya langit yang berputar.”

Al-Sijzi juga seorang matematikawan yang khusus mempelajari titik potong dari kerucut dan lingkaran. Ia menggantikan triseksi kinematikal lama dari suatu sudut dengan menggunakan sebuah pemecahan geometris (titik potong dari sebuah lingkaran dan sebuah hiperbola ekilateral).


9. Abu Nashr Mansur


Abu Nashr Mansur bin Ali (sekitar 970–1036 M) merupakan matematikawan dari Khwarazm. Ia banyak dikenal untuk penemuannya tentang hukum sinus. Abu Nashr Mansur dilahirkan di Khwarazm dari keluarga yang menguasai daerah itu. Ia kemudian menjadi pangeran dalam iklim politik. Ia merupakan guru Al-Biruni dan juga kolega penting para matematikawan. Bersama mereka ia menorehkan karya penemuan besar dalam matematika dan mendedikasikan karyanya pada orang lain. 

Kebanyakan karya Abu Nashr berfokus pada matematika, namun ada juga beberapa karyanya di bidang astronomi. Dalam matematika, ia memiliki banyak tulisan penting pada trigonometri, yang dikembangkan dari tulisan Ptolomeus. Ia juga memelihara karya Menelaus dari Alexandria dan mengerjakan kembali banyak teorema Yunani. Ia meninggal di daerah yang kini disebut Afghanistan, dekat Kota Ghazna.


3. Al-Farazi

Al-Farazi (wafat pada tahun 790 M) adalah perintis alat astrolab planisferis yaitu mesin hitung analog pertama, sebagai alat bantu astronomi...