Ahmad ibnu Yusuf al-Misri (835-912 M) adalah seorang matematikawan, putra dari Yusuf ibnu Ibrahim yang juga seorang matematikawan. Ahmad ibnu Yusuf al-Misri lahir di Baghdad, Irak dan kemudian pindah bersama ayahnya ke Damaskus pada tahun 839 M. Kemudian ia pindah lagi ke Kairo, dan dari sinilah namanya mendapat tambahan al-Misri (dari Mesir).
Wednesday, December 16, 2020
Sunday, December 13, 2020
7. Al-Kirmani
Abul Hakam Umar bin Abdurrahman bin Ahmad bin Ali Al-Kirmani atau Al-Kirmani adalah cendekiawan besar abad ke-12 dari Kordoba, Al-Andalus. Ia adalah murid dari Maslamah al-Majriti. Ia mempelajari dan berkarya di bidang geometri dan logika.
Menurut salah seorang muridnya yang bernama Al-Husain bin Muhammad al-Husain bin Hayy al-Tajibi, “Tak ada yang sepandai Al-Kirmani dalam memahami geometri atau jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya yang tersulit, dan dalam mempertunjukkan seluruh bagian dan bentuknya.”
Al-Kirmani lalu pindah ke Harran, Al-Jazirah (sekarang terletak di Turki). Disana ia mempelajari geometri dan kedokteran. Ia kemudian kembali ke Al-Andalus dan tinggal di Sarqasta (Zaragoza). Ia diketahui menjalankan praktik bedah seperti amputasi dan kauterisasi.
6. Abu Raihan al-Biruni
Abu Raihan al-Biruni merupakan matematikawan Persia, astronom, fisikawan, sarjana, penulis ensiklopedia, filsuf, pengembara, sejarawan, ahli farmasi dan guru, yang banyak menyumbang kepada bidang matematika, filsafat, dan ilmu obat-obatan.
Abu Raihan al-Biruni dilahirkan di Khawarazmi, Turkmenistan atau Khiva di kawasan Danau Aral di Asia Tengah yang pada masa itu terletak dalam kekaisaran Persia. Dia belajar matematika dan pengkajian bintang dari Abu Nashr Mansur. Abu Raihan al-Biruni merupakan teman filsuf dan ahli obat-obatan Abu Ali al-Hussain ibnu Abdallah Ibnu Sina (Ibnu Sina), sejarawan, filsuf, dan pakar etik Ibnu Miskawaih, di universitas dan pusat sains yang didirikan oleh putera Abu Al-Abbas Ma’mun Khawarazmshah. Dia lahir tanggal 15 September 973 dan meninggal pada 13 Desember 1048.
5. Al-Farabi
Abu Nasir Al-Farabi atau lebih dikenal sebagai Al-Farabi hidup antara tahun 870-900 M. Orang barat menyebutnya dengan Alfarabius. Ia merupakan tokoh Islam yang pertama dalam bidang logika. Al-Farabi juga mengembangkan dan mempelajari ilmu fisika, matematika, etika, filsafat, politik, dan sebagainya. Bidang lain yang menjadi perhatiannya adalah sosiologi, dan musik.
4. Al-Khwarizmi
Muhammad ibnu Musa Al-Khawarizmi (780-850 M) adalah seorang pakar dalam bidang matematik, astronomi dan geografi dari Iran. Orang-orang Eropa menyebutnya dengan nama Al-Gorisma. Al-Khwarizmi adalah yang pertama menemukan logaritma (berasal dari nama Al-Khwarizmi) dan aljabar (Al-Jabr). Dan di bidang ilmu bumi ia dikenal dengan bukunya yaitu Kitab Surah al-Ardh yang menyatakan bahwa bumi itu bulat (jauh sebelum Galileo mendeklarasikannya).
Al-Khawarizmi juga dikenal sebagai Bapak Algebra (Al-Jabar). Nama itu kemudian dipakai orang-orang barat dalam arti kata aritmatika atau ilmu hitung. Mengapa? Karena dia adalah seorang muslim yang pertama-tama dan ternama dalam ilmu matematika dan ilmu hitung. Bukunya yang terkenal berjudul Al-Jabar Wal Muqobalah, kemudian buku tersebut disalin oleh orang-orang barat dan sampai sekarang ilmu itu kita kenal dengan nama Al-Jabar.
3 Abu Wafa’
Abu Wafa’ Muhammad ibnu Muhammad ibnu Yahya ibnu Ismail Buzjani atau Abu Wafa’ (lahir di Buzhgan, Nishapur, Iran, 940–997/998 M) merupakan ilmuwan muslim yang mengembangan ilmu trigonometri dan geometri bola serta penemu tabel sinus dan tangen, ia juga merupakan penemu variasi dalam gerakan bulan. Ia adalah seorang ahli astronomi dan matematikawan yang ternama dari Persia. “Ia adalah salah satu matematikawan terhebat yang dimiliki perabadan Islam,” papar Bapak Sejarah Sains, George Sarton dalam bukunya bertajuk Introduction to the History of Science. Sedangkan Kattani mengatakan bahwa Abu Wafa’ merupakan matematikawan terbesar di abad ke-10.
Abu Wafa’ belajar matematika dari pamannya yang bernama Abu Umar al-Maghazli dan Abu Abdullah Muhammad ibnu Ataba. Sedangkan ilmu geometri dikenalnya dari Abu Yahya alMarudi dan Abu al-Ala’ ibnu Karnib. Ia tumbuh besar di era bangkitnya sebuah dinasti Islam baru yang berkuasa di wilayah Iran. Dinasti yang bernama Buwaih itu berkuasa di wilayah Persia —Iran dan Irak— pada tahun 945 hingga 1055 M. Kesultanan Buwaih menancapkan benderanya di antara periode peralihan kekuasaan dari Arab ke Turki. Dinasti yang berasal dari suku Turki itu mampu menggulingkan kekuasaan Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad pada masa kepemimpinan Ahmad Buyeh.
Dinasti Buwaih memindahkan ibukota pemerintahannya ke Baghdad saat Adud ad-Dawlah berkuasa dari tahun 949-983 M. Pemerintahan Adud ad-Dawlah sangat mendukung dan memfasilitasi para ilmuwan dan seniman. Dukungan itulah yang membuat Abu Wafa’ memutuskan hijrah dari kampung halamannya ke Baghdad. Sang ilmuwan dari Khurasan ini lalu memutuskan untuk mendedikasikan dirinya bagi ilmu pengetahuan di istana Adud ad-Dawlah pada tahun 959 M.
Abu Wafa’ juga mempelajari pergerakan bulan; salah satu kawah di bulan dinamai Abul Wafa’ sesuai dengan namanya. Di antara sederet ulama dan ilmuwan muslim yang dimiliki peradaban Islam, hanya 24 tokoh saja yang diabadikan di kawah bulan dan telah mendapat pengakuan dari Organisasi Astronomi Internasional (IAU). Kebanyakan ilmuwan muslim diabadikan di kawah bulan dengan nama panggilan Barat dan Abu Wafa’ adalah salah satu ilmuwan yang diabadikan di kawah bulan dengan nama aslinya. Salah satu kontribusinya dalam trigonometri adalah mengembangkan fungsi tangen dan mengembangkan metode untuk menghitung tabel trigonometri.
Sunday, December 6, 2020
2. Umar Khayyam
Ghiyath ad-Din Abu’l-Fath Umar ibnu Ibrahim Khayyam Neishahpuri atau Umar Khayyam (wafat pada tahun 1123 M) adalah ilmuwan muslim yang memecahkan persamaan pangkat tiga dan empat melalui kerucut-kerucut yang merupakan ilmu aljabar tertinggi dalam matematika modern. Selain itu, Umar Khayyam juga dikenal luas sebagai seorang penyair.
Umar lahir di Nishapur, daerah timur laut Iran. Masa kecilnya banyak dihabiskan di Balkh (saat ini Afghanistan) dan ia belajar dari Sheikh Muhammad Mansuri. Ia juga belajar dari Imam Mowaffaq Nishapuri, salah satu guru paling baik di Khorasan. Saat usianya masih muda ia pindah ke Samarkand dan mulai belajar di sana. Setelah beberapa tahun ia pindah ke Bukhara dan menjadi ahli matematika dan astronomi. Dia menulis salah satu risalah paling penting tentang aljabar sebelum dunia modern yang kemudian diterapkan di Eropa.
3. Al-Farazi
Al-Farazi (wafat pada tahun 790 M) adalah perintis alat astrolab planisferis yaitu mesin hitung analog pertama, sebagai alat bantu astronomi...
-
1. Mobil - Bensin = Pelari - .... A. Makanan B. Sepatu C. Kaos D. Lintasan 2. Dingin - Selimut = Hujan - .... A. Air B. Pa...
-
Abu al-Qasim Ahmad ibnu Muhammad al-Iraqi al-Simawi (wafat pada tahun 1260 M) adalah seorang kimiawan muslim yang berasal dari Baghdad, Irak...
-
Dr. Ahmed Hassan Zewail adalah seorang kimiawan berkebangsaan Mesir yang dikenal karena femtokimia. Ia lahir pada 26 Februari 1946, di Daman...




