Monday, December 28, 2020

9. Abu Bakar bin Zakaria Ar-Razi

Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi merupakan salah seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864-930 M. Ar-Razi dikenal luas sebagai ilmuwan serba bisa dan dianggap sebagai salah satu ilmuwan terbesar dalam Islam. 

Ar-Razi lahir di Rayy, Teheran pada tahun 865 M dan wafat pada tahun 925 M. Sejak usia muda ia telah mempelajari filsafat, kimia, matematika dan kesastraan. Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepada Hunayn bin Ishaq di Baghdad. Sekembalinya ke Teheran, ia dipercaya untuk memimpin sebuah rumah sakit di Rayy. Selanjutnya ia juga memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad.

Sebagai seorang dokter utama di rumah sakit di Baghdad, Ar-Razi merupakan orang pertama yang membuat penjelasan seputar penyakit cacar. Razi diketahui sebagai seorang ilmuwan yang menemukan penyakit “alergi asma”, dan ilmuwan pertama yang menulis tentang alergi dan imunologi. 

Pada salah satu tulisannya, dia menjelaskan timbulnya penyakit rhintis setelah mencium bunga mawar pada musim panas. Razi juga merupakan ilmuwan pertama yang menjelaskan demam sebagai mekanisme tubuh untuk melindungi diri. Pada bidang farmasi, Ar-Razi juga berkontribusi membuat peralatan seperti tabung, spatula dan mortar. Ar-Razi juga mengembangkan obat-obatan yang berasal dari merkuri.


Tuesday, December 22, 2020

8. Ad-Damiri

Abu al-Baqa` Kamaluddin Muhammad bin Musa bin Isa bin Ali (wafat pada tahun 1450) adalah yang pertama mengembangkan sistem taksonomi/klasifikasi khusus ilmu hewan dan buku tentang kehidupan hewan. Dia biasa dipanggil dengan nama Ad-Damiri karena keluarganya berasal dari Desa Damirah, salah satu pedesaan di Mesir. 

Ad-Damiri belajar ilmu bahasa, fiqih, hadits, dan sastra di Universitas Al-Azhar. Dia belajar kepada dosen-dosen senior yang terdapat di universitas tersebut, di antaranya Syaikh Bahauddin as-Subki, Syaikh Jamaluddin al-Isnawi, Al-Kamal Abu al-Fadhl an-Nuwairi, Ibnu al-Mulqin, Al-Bulqini, Burhan al-Qairathi, Al-Baha Aqil, dan lainnya. Ketika dia sudah berhasil meraih gelar ustadz (profesor) dan guru-gurunya mengakui keilmuannya, dia diizinkan untuk mengajar di Universitas Al-Azhar. Dia memberikan pengajian kepada murid-muridnya pada hari Sabtu. Dia juga mengajarkan ilmu hadits di Qubah al-Baibarsiyah. Sedangkan di Madrasah Ibnu al-Baqari yang berada di Bab an-Nashr, dia mengajar pada hari Jumat. Setelah selesai shalat Jumat, dia menyampaikan pengajian di Masjid Azh-Zhahir yang berada di daerah Husein, Mesir.

Nama Ad-Damiri dikenal lewat karyanya yang berjudul Hayat al-Hayawan al-Kubra, sebuah ensiklopedi zoologi. Buku ini adalah buku ilmu hewan terbaik sepanjang masa itu. Di kemudian hari, Hayat al-Hayawan al-Kubra diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam 2 jilid (London, 1906-1908).

Buku Hayat al-Hayawan al-Kubra mulai ditulis oleh Ad-Damiri pada tahun 1271. Pada saat itu, dia masih berumur tidak lebih dari 31 tahun. Ini tentunya merupakan usia yang masih terbilang muda untuk menulis ensiklopedi besar yang dapat mengumpulkan berbagai informasi dari beberapa disiplin ilmu. Ad-Damiri menyebutkan bahwa dia telah mengumpulkan bahan tulisannya dari 560 buku di samping peninjauannya kepada 199 kumpulan syair. Dengan demikian, buku ini merupakan referensi besar yang masih jarang ditulis oleh para ilmuwan dalam bidangnya.


7. Al-Baytar

Abu Bakar Al-Baytar (wafat pada tahun 1340) adalah ilmuwan muslim yang mengarang buku tentang kedokteran hewan yang pertama.


6. Ibnu Abdus Salam

Ibnu Abdus Salam (abad 13) adalah ilmuwan muslim yang merumuskan pertama kali tentang hak-hak perlindungan binatang atau konservasi hewani.


Monday, December 21, 2020

5. Al-Ibadi

Al-Ibadi (wafat pada tahun 873 M) adalah pengarang buku tentang anatomi mata, otak dan syaraf optik, serta berbagai permasalahan pada mata.


3. Ibnu Nafis



Ibnu Nafis atau Al-Din Abu al-Hasan Ali ibnu Abi al-Hazm al-Qarshi al-Dimashqi merupakan orang pertama yang secara akurat mendeskripsikan peredaran darah dalam tubuh manusia pada tahun 1242, walaupun kemudian Harvey (tahun 1628) dianggap sebagai yang pertama kali menemukannya. Penggambaran kontemporer proses ini telah bertahan cukup lama. 

Ibnu Nafis juga merupakan orang pertama yang diketahui telah mendokumentasikan sirkuit paru-paru. Secara besar-besaran karyanya tak tercatat sampai ditemukan di Berlin pada 1924. Dia lahir di Syam tahun 1210 dan meninggal di Kairo, Mesir pada 17 Desember 1288 di usia 78 tahun.

Dia biasa dipanggil dengan Ad-Dimasyqi, karena ia dilahirkan di Syam dan awal masa mudanya ia habiskan di kota Damaskus, sebagaimana dia juga dipanggil dengan Al-Mishri, karena ia telah mengabiskan sebagian besar usianya di kota Kairo dan memiliki ikatan yang kuat dengan Mesir dan penduduknya. Selain itu, ia juga mempunyai nama panggilan lain, yaitu The Second Avicenna (Ibnu Sina Kedua), yang diberikan oleh para pengagumnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Ibnu Nafis menempuh pendidikan kedokteran di Medical College Hospital. Gurunya adalah Muhalthab al-Din Abd al-Rahim. Selain itu, ia juga mempelajari hukum Islam. Di kemudian hari, selain sebagai dokter, Ibnu Nafis juga dikenal sebagai pakar hukum Islam bermazhab Syafi’i. Pada tahun 1236, setelah menyelesaikan pendidikannya di bidang kedokteran dan hukum Islam, Ibnu Nafis meninggalkan tanah kelahirannya menuju Kairo, Mesir. Di sana, ia belajar di Rumah Sakit Al-Nassiri. Prestasinya yang gemilang membuat ia kemudian ditunjuk sebagai direktur rumah sakit tersebut.

Sebagai seorang dokter, Ibnu Nafis tidak pernah merasa puas dengan ilmu kedokteran yang dimilikinya. Ia terus memperkaya pengetahuannya melalui berbagai observasi. Hal inilah yang membuat namanya terkenal. Ia adalah dokter pertama yang mampu menerangkan secara tepat tentang paru-paru dan memberikan gambaran mengenai saluran pernapasan, juga interaksi antara saluran udara dengan darah dalam tubuh manusia. Ibnu Nafis dikenal sebagai seorang dokter muslim yang mempunyai pendapat dan pemikiran yang masih murni, terbebas dari berbagai pengaruh Barat.

Dalam studinya, Ibnu Nafis menggunakan beberapa metode, yaitu observasi, survei, dan percobaan. Ia mempelajari ilmu kedokteran melalui pengamatan terhadap sejumlah gejala dan unsur yang mempengaruhi tubuh. Menurut Ibnu Nafis, selain melakukan pengobatan, memeriksa unsur-unsur penyebab munculnya penyakit juga perlu. Selain itu, ia juga memaparkan mengenai fungsi pembuluh arteri dalam jantung sebagai pemasok darah bagi otot jantung (Cardiac Musculature). Penemuannya mengenai peredaran darah di paru-paru ini merupakan penemuan yang menarik. Sehubungan dengan hal itu, Ibnu Nafis dianggap telah memberikan pengaruh besar bagi perkembangan ilmu kedokteran Eropa pada abad XVI. Lewat penemuannya tersebut, para ilmuwan menganggapnya sebagai tokoh pertama dalam ilmu sirkulasi darah.


2. Al-Razi

Al-Razi adalah sang pengarang dari kitab Sirr al-Asrar (Rahasianya Rahasia) yang mengulas tentang penyulingan minyak mentah, pembuatan ekstrak parfum/minyak wangi (sekarang Perancis yang terkenal), ekstrak tanaman untuk keperluan obat, pembuatan sabun, kaca warna-warni, keramik, tinta, bahan celup kain, ekstrak minyak dan lemak, zat warna, bahan-bahan dari kulit, ia juga mengembangkan penelitian tentang penyakit wanita dan kebidanan, penyakit keturunan, penyakit mata, penyakit campak dan cacar.


3. Al-Farazi

Al-Farazi (wafat pada tahun 790 M) adalah perintis alat astrolab planisferis yaitu mesin hitung analog pertama, sebagai alat bantu astronomi...