Monday, December 28, 2020

11. Ibnu Sina



Abu Ali al-Husein ibnu Sina atau lebih dikenal dengan nama Avicenna, yang hidup antara tahun 986-1037 M adalah ilmuwan ensiklopedi, dokter, psikolog, penulis kaidah kedokteran modern (dipakai sebagai referensi ilmu kedokteran barat), menulis buku tentang fungsi organ tubuh, meneliti penyakit TBC, Diabetes dan penyakit yang ditimbulkan oleh efek pikiran. 

Ia merupakan seorang ilmuwan muslim dan filosof besar pada waktu itu, sehingga kepadanya diberikan julukan Syekh Al-Rais. Keistimewaannya antara lain adalah: Pada masa umur 10 tahun sudah hafal Al-Qur`an, kemudian pada usia 18 tahun sudah mampu menguasai semua ilmu yang ada pada waktu itu, bidang keahliannya adalah ilmu kedokteran, ilmu fisika, geologi, mineralogi, filsafat, matematika, dan astronomi.


10. Al-Jahiz



Al-Jahiz (wafat pada tahun 869 M) adalah yang pertama kali menulis penelitian tentang ilmu hewan (zoologi). Al-Jahiz lahir di Basra, Irak pada tahun 781 M. Nama aslinya adalah Abu Uthman Amr ibnu Bahr al-Kinani al-Fuqaimi al-Basri. Ia merupakan ilmuwan muslim pertama yang mencetuskan teori evolusi. Pengaruhnya begitu luas di kalangan ahli zoologi muslim dan Barat. Jhon William Draper, ahli biologi Barat yang sezaman dengan Charles Darwin pernah berujar, “Teori evolusi yang dikembangkan umat Islam lebih jauh dari yang seharusnya kita lakukan. Para ahli biologi muslim sampai meneliti berbagai hal tentang anorganik serta mineral.” Al-Jahiz lah ahli biologi muslim yang pertama kali mengembangkan sebuah teori evolusi. Ilmuwan dari abad ke-9 itu mengungkapkan dampak lingkungan terhadap kemungkinan seekor binatang untuk tetap bertahan hidup. 

Sejarah peradaban Islam mencatat nama Al-Jahiz sebagai ahli biologi pertama yang mengungkapkan teori berjuang untuk tetap hidup (struggle for existence). Untuk dapat bertahan hidup, papar dia, makhluk hidup harus berjuang, seperti yang pernah dialaminya semasa hidup. 

Beliau dilahirkan dan dibesarkan di keluarga miskin. Meskipun harus berjuang membantu perekonomian keluarga yang morat-marit dengan menjual ikan, ia tidak putus sekolah dan rajin berdiskusi di masjid tentang sains. Beliau bersekolah hingga usia 25 tahun. Di sekolah, Al-Jahiz mempelajari banyak hal, seperti puisi Arab, filsafat Arab, sejarah Arab dan Persia sebelum Islam, serta Al-Qur’an dan hadits. 

Al-Jahiz juga merupakan penganut awal determinisme lingkungan. Menurutnya, lingkungan dapat menentukan karakteristik fisik penghuni sebuah komunitas tertentu. Berkat teori-teori yang begitu cemerlang, Al-Jahiz pun dikenal sebagai ahli biologi terbesar yang pernah lahir di dunia Islam. 

Ilmuwan yang amat tersohor di Kota Basra, Irak itu bersama koleganya yaitu Ibnu Al-Muqaffa berhasil menuliskan Kitab Al-Haywan (Buku tentang Binatang). Dimana dalam kitab itu dia menulis tentang kuman, teori evolusi, adaptasi, dan psikologi binatang. Al-Jahiz pun tercatat sebagai ahli biologi pertama yang mencatat perubahan hidup burung melalui migrasi. Tak hanya itu, pada abad ke-9 M. Al-Jahiz sudah mampu menjelaskan metode memperoleh ammonia dari kotoran binatang melalui penyulingan. 

Sosok dan pemikiran Al-Jahiz pun begitu berpengaruh terhadap ilmuwan Persia, Al-Qazwini, dan ilmuwan Mesir, Al-Damiri. Karirnya sebagai penulis ia awali dengan menulis artikel. Ketika itu Al-Jahiz masih di Basra. Sejak itu, ia terus menulis hingga lebih dari dua ratus buku semasa hidupnya, diantaranya adalah Kitab al-Hayawan of Aristotle. 

Selain Kitab Al-Hayawan, beliau juga menulis Kitab al-Bukhala (Book of Misers or Avarice & the Avaricious), Kitab al-Bayan wa al-Tabyin (The Book of Eloquence and Demonstration), Kitab Moufakharat al-Jawari wal Ghilman (The Book of Dithyramb of Concubines and Ephebes), dan Risalah Mufakharat al-sudan ‘ala al-bidan (Superiority of The Blacks To The Whites). 

Pada tahun 816 M ia pindah ke Baghdad. Al-Jahiz meninggal setelah lima puluh tahun menetap di Baghdad pada tahun 869 M, ketika ia berusia 93 tahun.


9. Abu Bakar bin Zakaria Ar-Razi

Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi merupakan salah seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864-930 M. Ar-Razi dikenal luas sebagai ilmuwan serba bisa dan dianggap sebagai salah satu ilmuwan terbesar dalam Islam. 

Ar-Razi lahir di Rayy, Teheran pada tahun 865 M dan wafat pada tahun 925 M. Sejak usia muda ia telah mempelajari filsafat, kimia, matematika dan kesastraan. Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepada Hunayn bin Ishaq di Baghdad. Sekembalinya ke Teheran, ia dipercaya untuk memimpin sebuah rumah sakit di Rayy. Selanjutnya ia juga memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad.

Sebagai seorang dokter utama di rumah sakit di Baghdad, Ar-Razi merupakan orang pertama yang membuat penjelasan seputar penyakit cacar. Razi diketahui sebagai seorang ilmuwan yang menemukan penyakit “alergi asma”, dan ilmuwan pertama yang menulis tentang alergi dan imunologi. 

Pada salah satu tulisannya, dia menjelaskan timbulnya penyakit rhintis setelah mencium bunga mawar pada musim panas. Razi juga merupakan ilmuwan pertama yang menjelaskan demam sebagai mekanisme tubuh untuk melindungi diri. Pada bidang farmasi, Ar-Razi juga berkontribusi membuat peralatan seperti tabung, spatula dan mortar. Ar-Razi juga mengembangkan obat-obatan yang berasal dari merkuri.


Tuesday, December 22, 2020

8. Ad-Damiri

Abu al-Baqa` Kamaluddin Muhammad bin Musa bin Isa bin Ali (wafat pada tahun 1450) adalah yang pertama mengembangkan sistem taksonomi/klasifikasi khusus ilmu hewan dan buku tentang kehidupan hewan. Dia biasa dipanggil dengan nama Ad-Damiri karena keluarganya berasal dari Desa Damirah, salah satu pedesaan di Mesir. 

Ad-Damiri belajar ilmu bahasa, fiqih, hadits, dan sastra di Universitas Al-Azhar. Dia belajar kepada dosen-dosen senior yang terdapat di universitas tersebut, di antaranya Syaikh Bahauddin as-Subki, Syaikh Jamaluddin al-Isnawi, Al-Kamal Abu al-Fadhl an-Nuwairi, Ibnu al-Mulqin, Al-Bulqini, Burhan al-Qairathi, Al-Baha Aqil, dan lainnya. Ketika dia sudah berhasil meraih gelar ustadz (profesor) dan guru-gurunya mengakui keilmuannya, dia diizinkan untuk mengajar di Universitas Al-Azhar. Dia memberikan pengajian kepada murid-muridnya pada hari Sabtu. Dia juga mengajarkan ilmu hadits di Qubah al-Baibarsiyah. Sedangkan di Madrasah Ibnu al-Baqari yang berada di Bab an-Nashr, dia mengajar pada hari Jumat. Setelah selesai shalat Jumat, dia menyampaikan pengajian di Masjid Azh-Zhahir yang berada di daerah Husein, Mesir.

Nama Ad-Damiri dikenal lewat karyanya yang berjudul Hayat al-Hayawan al-Kubra, sebuah ensiklopedi zoologi. Buku ini adalah buku ilmu hewan terbaik sepanjang masa itu. Di kemudian hari, Hayat al-Hayawan al-Kubra diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam 2 jilid (London, 1906-1908).

Buku Hayat al-Hayawan al-Kubra mulai ditulis oleh Ad-Damiri pada tahun 1271. Pada saat itu, dia masih berumur tidak lebih dari 31 tahun. Ini tentunya merupakan usia yang masih terbilang muda untuk menulis ensiklopedi besar yang dapat mengumpulkan berbagai informasi dari beberapa disiplin ilmu. Ad-Damiri menyebutkan bahwa dia telah mengumpulkan bahan tulisannya dari 560 buku di samping peninjauannya kepada 199 kumpulan syair. Dengan demikian, buku ini merupakan referensi besar yang masih jarang ditulis oleh para ilmuwan dalam bidangnya.


7. Al-Baytar

Abu Bakar Al-Baytar (wafat pada tahun 1340) adalah ilmuwan muslim yang mengarang buku tentang kedokteran hewan yang pertama.


6. Ibnu Abdus Salam

Ibnu Abdus Salam (abad 13) adalah ilmuwan muslim yang merumuskan pertama kali tentang hak-hak perlindungan binatang atau konservasi hewani.


Monday, December 21, 2020

5. Al-Ibadi

Al-Ibadi (wafat pada tahun 873 M) adalah pengarang buku tentang anatomi mata, otak dan syaraf optik, serta berbagai permasalahan pada mata.


3. Al-Farazi

Al-Farazi (wafat pada tahun 790 M) adalah perintis alat astrolab planisferis yaitu mesin hitung analog pertama, sebagai alat bantu astronomi...